Artikel Perencanaan Keuangan & Konsultasi

Waalaikumsalam! Barakallahu lakum atas kemajuan keuangannya bu.
Tahap 1
Life Style Financial Check Up! (3 sepertiga)
1. penghasilan
– 11jt/bln. Sblmnya p’hasilan 6,5jt.
2. pengeluaran
– cicilan kartu kredit Rp.800rb slma 6 bln ke dpn.
– Cicilan logam mulia d pegadaian syari’ah Rp. 1,2jt slma 6 bln ke dpn.
– Premi asuransi kesehatan 500rb/bln.
– Pengeluaran suami dan sy sktr 4jt/bln (t’masuk byr kost suami yg tinggal bd kota).
Berdasarkan analisa LSF (Life Style Financial) Check up! pendapatan diukur atas pengeluaran (anggaran yang dibagi dalam 3 sepertiga), maka 11 juta akan didistribusikan untuk;
1. Konsumsi keluarga 3,3 juta (30%)
2. Charity/ sedekah 3,3 juta (30%)
3. Modal kerja 4,4 Juta (40%)
Nah, sekarang chek up dengan pengeluaran yang ada.
– Pengeluaran suami & ibu 4 juta, itu bisa dianggap sebagai modal kerja (walaupun mungkin ada yang terkait konsumsi/ charity), maka sisanya 400 ribu.
– Pengeluaran untuk cicilan logam mulia (saya pastikan investasi), sebesar 1,2 juta. Sisa modal kerja sudah melebihi budget sekira 800 ribu, karena investasi termasuk modal kerja. Otomatis porsi ini akan menyedot pengeluaran lainnya, baik konsumsi maupun sedekah. Belum lagi cicilan berikutnya (rumah), masih kategori modal kerja (walaupun sifatnya pasif/ tidak menghasilkan langsung), beban keuangan keluarga akan semakin tidak sehat jika dipaksakan anggarannya seperti ini.
– Cicilan kartu kredit (biasanya untuk belanja konsumsi kan? artinya tidak produktif/ menghasilkan kembali), maka masuk pos belanja konsumsi 3,3 juta (ini termasuk kebutuhan dapur, intinya pos ini untuk biaya makan minum dan kelangsungan kebutuhan hidup yang dasar). Masih ada sisa 2,5 juta (saya tida tahu pengeluaran lainnya apa? Mungkin pos 4 juta modal kerja tercampur dengan biaya konsumsi)
– premi asuransi (masuknya charity/ sedekah; karena kategori hibah). Anggaran 3,3 juta, baru digunakan 500 ribu, jadi sisanya 2,8 juta. Pos ini termasuk untuk zakat 2,5% (275 ribu), menyisihkan untuk dana darurat (cadangan minimum setara 6 bulan penghasilan atau 66 juta, atau 12 kali kewajiban/cicilan-cicilan. dana ini berguna jika sumberpenghasilan berhalangan, baik karena sementara maupun untuk jangka panjang. sebaiknya diikuti dengan asuransi proteksi pendapatan). Pos ini juga dipersiapkan untuk dana pendidikan anak (dalam laporan tidak ada investasi pendidikan, seharusnya disisihkan untuk berdua sebesar 660 ribu atau setara 1/15 pendapatan). Pos ini juga termasuk untuk Haji Umrah dan pensiun (menambahkan walaupun dari perusahaan sudah ada).

Tahap 2
Financial Asset Planning
Setelah men-check anggaran dan menyesuaikan, sebaiknya mulai atur lagi dan catat lagi. diskusikan dengan pasangan, komunikasikan dengan anak.
Berikutnya lakukan inventaris aset dan data, lalu susun laporan keuangan, coba buka artikel saya https://arrijal9partners.wordpress.com/aktifitas-2/artikel-buku/artikel-konsultasi-keuangan/
Mengapa ini penting, karena akan berhubungan dengan langkah selanjutnya, yaitu menetapkan tujuan keuangan (seperti yang ibu sebutkan ingin punya rumah), sebaiknya sebelum menanggung beban lebih berat lagi, persiapkan fondasi keuangannya dengan baik, seperti;
1. Siapkan dana darurat minimum 6 bulan penghasilan
2. Check lagi investasi pendidikan (karena beban akan bertambah seiring bertambahnya usia anak)
3. Hitung lagi asuransi yang dimiliki (tidak hanya kesehatan, namun juga income protection/ proteksi pendapatan)
4. Inventaris aset, kemudian nilai apakah asetnya produktif atau tidak

Tahap 3
Financial Future Planning
Pernyataan ibu, “Kami punya perumahan d depok,” termasuk perencanaan keuangan dimasa yang akan datang, sebaiknya perencanaan ini melihat 2 tahap sebelumnya (ibarat bangun rumah, sebaiknya mulai fondasi, bangunan rumah, baru atap dan asesoris lainnya. jangan loncat loncat tahapannya)
Nah, apakah relevan keinginan itu saat ini? Jika dinilai secara pembelanjaan masih belum layak, karena masih tidak teratur dan sesuai porsinya (banyak yang dipaksakan). Namun saya memberikan solusi, kan sdh dibuatkan rmh oleh orangtua. Sebaiknya rumah tersebut dikontrakan, agar menjadi penambah penghasilan.
Untuk masalah tdk punya uang u/ byr DPnya sktr 29jt, bisa dibahas lagi berikutnya setelah tahapan-tahapan tadi “diluruskan”. Kalau kami pinjam uang u/byr DP, kami agak khawatir kesulitan m’byr cicilannya (3,2 jt/bln). Saya tidak tahu 3,2 juta untuk angsuran DP (jika dihitung dengan menyisihkannya selama 9 bulan DP akan tercukup), atau cicilan 3,2 juta untuk angsuran rumah (jika iya, untuk berapa tahun, dan coba cek lagi ke anggaran modal kerja. jangka waktu lebih panjang tidak masalah, asalkan anggaran tidak dipaksakan, karena akan berdampak lebih serius terhadap kesehatan keuangan keluarga).

Tahap 4
Financial Invesment Planning
Tahap ini lebih merangkum permasalahan di tiga tahap yang ada, jika ternyata bisa disesuaikan dan pas, tahap ini hanya untuk meningkatkan investasi/ kekayaan keluarga saja, namun jika di tiga tahap sebelumnya bermasalah, malah tahap ini bisa jadi solusi lainnya (selain mengurangi pengeluaran juga menaikan pendapatan)

Metode LSF Check Up!
Perencanaan Keuangannya Lebih Nyunah (sesuai syariat Al Qur’an & Hadits).
Firman Allah Ta`ala dalam QS Al Furqan ayat 67, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah-tengah antara yang demikian.”
Dalam metode “Cara Islam Merencanakan Keuangan” dengan cara Life Style Financial (LSF) Check Up! Sesuai sunnah, pendapatan dapat juga dikelola dengan metode 3 (tiga) sepertiga. Silahkan diamalkan, tentunya selain membantu mengatur keuangan juga berpahala karena mengamalkannya.
Agar kita bisa menyikapi pendapatan ini dengan baik, ada tips sesuai Kitab Imam Muslim; Zuhud & Kelembutan Hati, Bab Sedekah terhadap orang-orang miskin, hadis No. 2984, yang dimasukkan sebagai hadis ke 19 dalam kitab Riyadushalihin Bab 60 tentang Kedermawanan oleh Imam Nawawi. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. menceritakan seorang petani yang diberkahi usaha dan hartanya, dan beliau bersabda; “……., maka sesungguhnya aku memperhitungkan hasil yang didapat dari kebun ini, lalu aku (1) bersedekah dengan 1/3 (sepertiganya), dan aku (2) makan beserta keluargaku (biaya konsumsi) 1/3 (sepertiganya) lagi, kemudian aku (3) kembalikan (untuk menanam lagi) 1/3 (sepertiganya).”
Memerhatikan hadis tersebut, kita dapat menarik benang merah, bahwa pendapatan bagi seorang Muslim akan menjadi 3 kebaikan apabila didistribusikan:
(1) 1/3 untuk disedekahkan. Termasuk di dalamnya membayar zakat, membebaskan utang-piutang, memberikan bingkisan atau hadiah, dll.
(2) 1/3 untuk dimakan (konsumsi sehari-hari). Pos ini hanya untuk keperluan konsumsi saja, seperti makan minum, pakaian, liburan, dll. Pakaian jika dalam bentuk hadiah termasuk sedekah, jika untuk keperluan sehari-hari bisa menggunakan pos budgeting bulanan (tinggal diatur teknisnya), jika untuk sekalian kerja maka dari modal kerja.
(3) 1/3 untuk modal kerja (dikembalikan untuk mendapat penghasilan kembali).
Dalam bersedekah pun (charity), agar optimal dan menjalankannya sesuai sunah, Nabi Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Bersedekahlah kamu! Seorang laki-laki bertanya : Saya punya satu dinar. Nabi bersabda: Sedeqahkanlah itu untuk dirimu sendiri. Laki-laki itu berkata: Saya punya satu dinar lagi, Nabi bersabda: Sedeqahkanlah untuk istrimu. Padaku masih ada satu dinar lagi: Nabi bersabda: Sedeqahkanlah untuk anak-anakmu. Padaku masih ada satu dinar lagi: Nabi bersabda: Sedeqahkanlah untuk pembantumu. Padaku masih ada satu dinar lagi, Nabi bersabda: Kamu mengetahui dengannya ” [HR Abu Dawud, Nasa’i dan Imam Hakim menshahihkannya. Lihat: Fiqhus Sunnah Sayyid Sabiq bab Shadaqah Tathawu’] http://facebook.com/LifeStyleFinancial.CheckUP

Apakah Keuangan Anda Sehat?
Ketika ditanya kesehatan keuangan, seseorang cenderung menjawab dengan pendekatan sederhana. Jawaban sehat ketika merasa keuangan cukup, dan menjawab tidak ketika terasa banyak sekali kebutuhan yang ingin dipenuhi (sekalipun tidak mendesak), namun pendapatan terbatas. Validitas penilaian kesehatan keuangan dapat dilihat dari Financial Asset Check Up yang menjadi dasar Financial Asset Planning (FAP), Financial Future Planning (FFP) dan Financial Invesment Planning (FIP).
Dalam menganalisis kesehatan keuangan pribadi atau keluarga, seperti layaknya sebuah perusahaan, kita juga bisa menggunakan Analisa Rasio Keuangan. Namun sebelum melakukan pengecekan terhadap kesehatan keuangan Anda, diperlukan data keuangan berupa neraca (balance sheet) dan cash flow (catatan kas)/ laporan pengeluaran & pemasukan.
Bagaimana menyusun laporan kas, cukup melakukan pencatatan pendapatan dan pengeluran. Selisih pendapatan – pengeluaran akan menunjukan angka surplus (kelebihan) atau defisit (kekurangan). Pencatatan yang terpenting dari kas ini ada tiga ; 1. Pengeluaran konsumsi (makan Minum, toileting, kebutuhan rumah tangga, dan barang konsumsi lainnya), 2. Modal kerja (investasi, pengeluaran sehubungan dengan pekerjaan, dan termasuk cicilan aset), 3. Charity/ sedekah (zakat infaq shadaqah, investasi haji-umrah, biaya pendidikan anak dana darurat/ asuransi, dll)

Laporan Kas

Uraian Bulanan Tahunan Total
Pendapatan
Pengeluaran
1. Charity/ Sedekah
2. Konsumsi
3. Modal Kerja
Surplus/ Defisit

Baik surplus maupun defisit belum mencerminkan kondisi kesehatan keuangan secara keseluruhan, untuk itu perlu disusun neraca yang berisi harta (aktiva) dikolom sebelah kiri, meliputi; memuat informasi cadangan kas (uang tunai), aset investasi yang likuid dan tidak likuid (termasuk konsumtif atau produktif).
Lalu dikolom sebelah kanan memuat infromasi utang jangka pendek menengah dan panjang, yang diikuti dengan pencatatan kekayaan bersih/ net worth (pasiva), yaitu hasil pengurangan aset dengan hutang.

Laporan Neraca

Harta (Aktiva) Hutang (Pasiva)
1. Cadangan Kas (tunai) 1. Jangka Pendek
2. Jangka Menengah
2. Aset Investasi (pasif) 3. Jangka Panjang
3. Aset Investasi (aktif) Net worth/ kekayaan bersih
Aktiva = Pasiva

Setelah memiliki data laporan keuangan sederhana tersebut, gunakan rasio-rasio dibawah ini:
Rasio Keuangan Tunai; Rasio terpenting adalah Liquidity Ratio. Rasio yang mengindikasikan berapa lama (berapa bulan) kuangan Anda dapat menutupi kebutuhan rutin bulanan/ tahunan, bila tidak menerima penghasilan sama sekali (misalnya uang gajian sudah habis sementara ada kebutuhan mendesak, atau karena di-PHK/ mogok kerja/ gaji macet, biaya sehari-hari sebelum klaim asuransi keluar untuk pertanggungan resiko).
Sebagai contoh, misalkan jumlah uang tunai cadangan dalam tabungan dan deposito adalah Rp 5.000.000 dan jumlah pengeluaran bulanan Rp 3.000.000 (informasi didapat dari laporan pengeluaran kas dan laporan neraca cadangan kas). Dari data ini, rasio likuiditas = 5.000.000 : 3.000.000 = 1,67. Rasio ini menunjukkan kemampuan aset likuid untuk menutup kebutuhan bulanan selama 1,67 bulan atau 1 bulan 20 hari. Secara umum angka rasio yang disarankan antara 3 s/d 6 bulan (dana darurat). Aset likuiditas terlalu tinggi >4-6 bulan sebaiknya disimpan pada instrumen investasi lebih moderat, tidak dalam tabungan atau deposito.
Rasio Utang; Rasio terpenting adalah Debt Service Ratio. Rasio ini mengindikasikan apakah Anda dapat memenuhi dan memelihara kewajiban pembayaran utang. Rasio keuangan ini menunjukkan seberapa banyak dana dari penghasilan Anda yang akan dipakai untuk membayar kembali utang.
Contoh, bila total kewajiban cicilan hutang yang harus dibayar dalam waktu satu tahun adalah Rp 18.500.000 sedangkan total pemasukan satu tahun Rp 73.000.000 (kedua informasi didapat dari laporan kas), sehingga rasio = 18.500.000 / 73.000.000 = 0,25. Ini berarti 25 % penghasilan Anda telah teralokasikan untuk membayar hutang, atau dengan kata lain anda masih memiliki 75 % penghasilan untuk dikelola secara bebas. Rasio maksimum yang dianjurkan adalah sekitar 30%-35%, lebih dari itu akan sangat menganggu pengeluaran anda dan investasi. Rasio ini sejalan dengan rasio modal kerja dalam rencana distribusi pendapatan (laporan kas). Rasio ini juga akan dinilai bank ketika Anda mengajukan KPR, semakin kecil rasio % ini berarti beban utang semakin ringan dan peluangnya lebih besar untuk disetujui.
Selain itu ada Debt to Asset Ratio dan Solvency Ratio. Rasio ini menunjukkan seberapa rentan Anda terhadap risiko kebangkrutan. Apakah aset Anda kuasasi penuh atau sebagaian besar dikuasai pihak lain (kreditur), karena utang dibandingkan dengan aset lebih besar utang.
Rasio Investasi; Rasio terpenting adalah Saving Ratio. Rasio ini berguna untuk menunjukkan apakah Anda telah menabung cukup dana untuk memenuhi kebutuhan keuangan, yang dicerminkan oleh persentase dari penghasilan yang Anda sisihkan untuk keperluan di masa depan.
Sebagai contoh apabila jumlah tabungan dalam satu tahun Rp 8.000.000, sedangkan jumlah penghasilan tahunan Rp 73.000.000 (kedua informasi didapat dari laporan kas), maka rasio kekuatan menabung = 8.000.000 / 73.000.000 = 0,11 atau 11%. Minimumnya rasio ini 10%, artinya pendapatan yang dihasilkan tidak habis dikonsumsi atau digunakan oleh modal kerja yang bersifat pasif.
Rasio penting lainnya adalah Net Investment Assets to Networth Ratio (kedua informasi didapat dari laporan neraca). Rasio ini membandingkan nilai aset aktif dengan Nilai Kekayaan Bersih Anda. Skor minimum 50%. (Agus Rijal, S.E., Perencana Keuangan Syariah Independen. Email; RIJAL1807@gmail.com. Tlp 022-7678.5577)*** http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=160290

Mencicil atau Membayar Tunai?
Belajar dari pengalaman mengelola kuangan pribadi & keluarga dengan cicilan, saya tertarik untuk bertanya tentang cara gali lobang setelah menutup lobang sebelumnya, artinya mencicil barang-barang baru setelah satu cicilan selesai. Apakah cara tersebut efektif & efisien dalam mengelola keuangan?
apmuhlis@yahoo.co.id
Jawaban;
Untuk menjawab pertanyaan tersebut berikut ilustrasi jika membayar tunai + investasi dan mencicil. Penjelasan tersebut berlaku untuk berbagai jenis cicilan, termasuk KPR dan pembiayaan lainnya;
Misalnya akad syariah murabahah leasing (jual beli dan sewa) kendaraan bermotor dibeli dari dealer harga 15 juta (tunai), karena dicicil lembaga pembiayaan menawarkan Rp 22 Juta dengan angsuran 600 ribu untuk 35 kali dengan Down Payment (DP) Rp 1 juta.
Sebenarnya konsumen harus membayar lebih mahal tidak hanya selisih kenaikan harga baru, namun juga harga setelah barang dimiliki (penyusutan harga produk konsumsi). Karena kendaraan tersebut jika dijual lagi paling laku 9 jutaan setelah 35 bulan. Artinya konsumen 2 kali rugi, pertama dari Rp 15 juta ke Rp 22 juta. Kedua, dari penyusutan nilai jual menjadi Rp 9 juta (15-9 juta = Rp 6 juta). Total nilai “kerugian secara uang” bagi konsumen sekira 13 juta atau setara 60%, yang jadi pertanyaan adalah benefit yang didapat dari cicilan tersebut apakah menjadi lebih dari 60%, artinya jika penghasilan Rp 1 juta saat mencicil dengan kendaraan tersebut 35 bulan kemudian setara/ naik menjadi 1,6 juta.
Bandingkan dengan membeli tunai, misalnya ongkos rata-rata Rp 300 ribu per bulan atau Rp 10 ribu per hari, kemudian sisihkan 300 ribu untuk diinvestasikan (ditabung). Jadi jika sudah 3 tahun (tabungannya sekira Rp 10.800.000, pokoknya saja, belum termasuk keuntungan investasi selama 3 tahun. Jika 30% setahun saja, setoran Rp 300 ribu sebulan bisa menjadi Rp 17 juta dalam 3 tahun). Maka di tahun ketiga, Anda sudah bisa memiliki kendaraan dengan membelinya seharga tunai (dari nilai pokoknya saja Anda mendapat kendaraan second, jika ditambah keuntungan investasi dan DP boleh jadi bisa membeli yang baru).
Walaupun untuk barang tertentu sangat tergantung dari kebutuhan dan kondisi seseorang di rumah maupun tempat kerjanya. Untuk karyawan operasional yang biasa dilapangan dan tidak difasilitasi kendaraan kantor, maka kendaraan boleh jadi menjadi kebutuhan yang mendesak, dibandingkan dengan karyawan yang back office. Menggunakan kendaraan umum untuk sementara waktu masih bisa menjadi pilihan sebelum memiliki dana yang cukup untuk membeli tunai.
Selain dasar perhitungan tadi, harus dipahami bahwa tidak semua cicilan menguntungkan. Mengapa? Ada beberapa produk konsumsi yang seharusnya dibayar dengan tunai, karena barang tersebut mengalami penyusutan nilai ekonomisnya (harga jual lebih rendah dibandingkan dengan harga beli), contoh peralatan rumah tangga seperti televisi, kulkas, kendaraan, dll.
Walaupun tidak semua barang konsumsi yang mengalami penyusutan ini bernilai konsumtif, artinya jika barang tersebut dimanfaatkan untuk hal yang produktif (memberikan nilai tambah/ value added terhadap pemasukan keuangan, atau mengurangi resiko harga pembelian diawal yang lebih tinggi dibandingkan harga kemudian hari setelah digunakan). Misalnya kendaraan yang digunakan untuk usaha pribadi atau direntalkan.
Jika mampu membeli tunai untuk barang konsumtif sebaiknya dilakukan, sehingga margin yang diambil oleh lembaga pembiayaan dapat dialihkan menjadi keuntungan investasi. Apalagi kebutuhan itu tidak muncul mendesak. Misalnya bisa menyisihkan Rp 600 ribu sebulan, dalam 2 tahun uang yang terkumpul sudah Rp 14,5 juta dan dalam 3 tahun menjadi Rp 22 juta. Itu baru dihitung pokoknya saja, belum ditambah keuntungan investasi.
Lain cerita jika uang yang disisihkan Rp 600 ribu tersebut digunakan untuk cicilan, keuntungan praktis dinikmati lembaga pembiayaan, belum lagi dari sisi investasi yang sama sekali tidak dimiliki selain barang yang diterima dimuka. Dalam keterikatan kewajiban (pengeluaran rutin), cicilan selain berdampak keuangan juga akan menguras energi, karena selama periode cicilan tersebut keuangan sudah dipangkas untuk membayar kewajiban tersebut. Jika terjadi masalah, keterlambatan bayar atau macet, dampaknya akan lebih buruk lagi, karena lembaga pembiayaan akan memaksa Anda untuk segera melunasinya.
Menentukan dicicil atau bayar tunai juga bisa melihat seberapa besar value added terhadap pendapatan, artinya barang tersebut merupakan investasi atau bukan. Jika Anda harus membayar 60% lebih tinggi dari barang tunai, sementara value added yang dihasilkan 100%, maka cicilan akan sangat membantu mengoptimalkan keuangan Anda. Artinya, ada sisa anggaran yang masih bisa digunakan untuk pos lainnya dibandingkan harus terkuras habis untuk membeli tunai.
Contoh, pendapatan 3 juta disisihkan untuk cicilan Rp 250 ribu untuk 12 kali, jauh lebih menguntungkan dibandingkan dibayar tunai 3 juta. Karena barang tersebut memberikan nilai tambah pendapatan naik 10% atau 100% dari cicilan atau pendapatan semula 3 juta menjadi 3,3 juta setiap bulannya. Value added juga bisa dinilai dari sudut pandang pengeluaran, misalnya terjadi efisiensi (pengurangan pengeluaran), semula pendapatan 3 juta dengan pengeluran Rp 1,8 Juta, setelah adanya barang tersebut pengeluaran menjadi Rp 1,5 juta. Maka cicilan Rp 300 Ribu otomatis tidak membebani biaya atau jadi tambahan pengeluaran, misalnya kendaraan bermotor untuk operasional kerja. Barakallahufiq. (Agus Rijal, S.E., Perencana Keuangan Syariah Independen. email; RIJAL1807@gmail.com)***
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=159361

Cara Bijak dalam Berhutang
Saya ambil KPR (Ruko) dalam tempo 10 tahun, dengan cicilan sekira Rp 3 juta sebulan. Ruko ini selain tempat usaha juga untuk tempat tinggal kami. Selain wirausaha, saya juga mendapat gaji sebagai pegawai BUMN per tahun 120 jt (total bersama suami). Bagaimana supaya bisa menutup cicilan KPR yang kadang keteteran dan juga usaha tetap berjalan.
irma_khairany@plasa.com, pegawai swasta & pengusaha, ibu 2 anak
Jawab;
Sebelum Anda memutuskan menggunakan dana pihak ketiga (pinjaman/ berhutang) sebaiknya memperhatikan hal-hal berikut;
1. Usahakan rasio cicilan (total) tidak lebih dari 1/3 pendapatan (pos modal kerja), sebaiknya total pinjaman 20-30% dari pendapatan, karena masih harus ada biaya operasional kerja/ usaha dan investasi/ saving (tabungan) rutin minimum 10%.
2. Pinjaman sebaiknya digunakan untuk aset yang produktif (menghasilkan kembali), tidak konsumtif (tidak menghasilkan kembali atau nilai jualnya lebih rendah dari nilai beli tanpa menambah pendapatan)
3. Hati-hati dalam membuat keputusan kredit jangka menengah (>2-3 tahun) dan panjang (>5-10 tahun), selain akan membebani keuangan dalam jangka waktu yang lama juga dampak resiko keuangannya lebih besar.
4. Pilihlah jenis pinjaman yang tidak ada denda, fleksibel dalam jangka waktu pembayaran (penundaan) atau memberikan banyak keringanan, untuk antisipasi ketika bermasalah.
5. Siapkan terlebih dahulu dana cadangan (bagian dari dana darurat), min.12 kali total cicilan atau 6 kali pendapatan (bergantung resiko keuangan/ sumber penghasilan).
Untuk menjawab pertanyaan diatas, ada 2 masalah utama dalam kondisi keuangan ibu saat ini, yaitu; masalah keuangan pribadi dan masalah manajemen keuangan usaha.
Rasio Kesehatan Keuangan
Pendapatan 120 Juta sebulan (tidak termasuk dari usaha) atau setara 10 juta sebulan seharusnya sudah ideal. Cicilan 3 juta per bulan menurut analisa keuangan baik perencana keuangan/ penasehat keuangan dan perbankan dianggap layak (sehat), rasio setara 3/10= 30%, dengan rasio maksimum untuk utang 30-35%. Namun kewajiban/ cicilan tersebut belum ditotal dengan semua kewajiban utang lainnya (saya tidak dapat datanya). Boleh jadi masalah keteteran tersebut karena rasio yang sesungguhnya dari kewajiban itu melebihi 35%. Rasio keuangan ini sejalan dengan konsep 3 sepertiga (sesuai hadits no.2984 yang diriwayatkan oleh Imam Muslim), yang menjadi dasar metode Life Style Financial (LSF) Check Up! yaitu perencanaan keuangan sesuai sunnah, intinya kita harus bisa membagi pengeluaran secara seimbang untuk; (1) Biaya Konsumsi. (2) Modal Kerja. (3) Charity/ Sedekah.
Nah, kebocorannya dimana? Coba analisa modal kerja yang 40% (dari pendapatan 10 juta per bulan = 4 juta); 1. Cicilan Ruko 3 juta = 30% dari pendapatan 2. Sisa modal kerja untuk yang lainnya hanya tinggal 10%, alokasi tersebut untuk; investasi, biaya-biaya bukan usaha seperti komunikasi, transportasi, uang saku, konsumsi di tempat kerja, pakaian, dll.
Jika melihat kasus cicilan, modal kerja sudah habis oleh ruko (investasi pasif), maka sisa 10% atau satu juta untuk jatah biaya transport, komunikasi, dll. Cukupkah? Jika kurang maka modal kerja dari pendapatan tersebut lebih dari 40%. Nah jika demikian, maka pendapatan rutin harus bertambah dari hasil investasi usaha (coba hitung sendiri).
Life Style Financial Check Up! Pos yang lainnya, yaitu; pengeluaran biaya konsumsi (makan & minum atau kebutuhan dasar) dan charity (sedekah) yang meliputi biaya sekolah anak, dll. Apakah anggaran masing-masing 30% sudah sesuai dengan gaya hidup yang dijalankan saat ini, sesuaikan dengan kemampuan anggaran dan tidak memaksakan diri.
Sebagai seorang karyawan, sekaligus berwiraswasta sebisa mungkin komitmen dengan masing-masing anggaran tadi, agar konsumsi keluarga dapat terpenuhi, tidak terpengaruh naik turunnya pendapatan usaha. Apalagi usaha didanai sendiri (business owner) tetap harus disiplin, agar porsi konsumsi & charity tidak termakan usaha/ investasi, modal yang digunakan tidak lebih dari 1/3 pendapatan dan itu pun sebaiknya tidak seluruhnya. Jika hal itu dilakukan, sebaiknya digunakan pada usaha yang sudah stabil, tidak habis termakan biaya atau bahkan terlalu berspekulasi. Apabila dinilai tidak memungkinkan (usaha sendiri belum stabil/ belum dapat diharapkan), cobalah mendiversifikasi (membagi) porsi modal kerja pada jenis investasi lainnya selain usaha sendiri, misalnya deposito atau reksadana.
Manajemen Keuangan Usaha
Melihat data, saya nebak manajemen keuangan usaha pribadi dan pekerjaan tercampur baur, sehingga menyulitkan untuk usaha sendiri. Langkah yang harus diambil;
1. Pisahkan dulu perhitungan keuangan usaha (bisnis) dan keuangan pribadi (gaji)
2. Ruko sebaiknya dibebankan pada usaha. Jika selama ini usaha digunakan sebagai fasilitas pribadi, tinggal perhitungkan sebagai pendapatan sewa, misalnya sewa tempat tinggal 1 juta sebulan/ berapa saja sesuai budget keuangan pribadi.
3. Modal kerja keuangan pribadi tidak lagi memasukan cicilan KPR namun sewa, sehingga sisanya bisa digunakan untuk investasi lain yang lebih stabil hasilnya, agar keuntungannya terukur setiap bulan/ tahunnya sebagai pemasukan pribadi.
4. Membayar gaji sebagai owner. Usaha pribadi umumnya tidak menggaji dirinya, padahal waktu dan tenaganya memiliki kontribusi pada usaha tersebut. Barakallahu lakum (Agus Rijal, S.E., Perencana Keuangan Syariah Independen. Pos Elektronik; RIJAL1807@gmail.com. Tlp 022-7678.5577)***
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=163986

Uang Saku Anak (seri Cerdas Finansial untuk Sang Buah Hati)
Bagi sebagian orangtua mungkin ada anggapan anak belum membutuhkan uang saku, apalagi ketika anak mendapatkan katering untuk makan siang di sekolah atau selalu disiapkan bekal dari rumah, pergi ke sekolah dengan antar jemput dan selalu didampingi kemanapun ia pergi. Kondisi demikian dianggap anak tidak membutuhkan uang saku. Namun benarkah sepenuhnya demikian?Orang tua terkadang bingung apakah anaknya perlu diberi uang saku atau tidak? Karena banyak anak yang menggunakan uang saku tersebut untuk membeli makanan yang tidak bergizi atau hal yang tidak berguna. Sebaiknya orang tua membedakan antara uang saku dengan uang jajan. Uang saku adalah uang yang diberikan oleh orang tua dengan perencanaan keuangan yang jelas. Sedangkan uang jajan adalah uang yang diberikan kepada anak untuk membeli jajanan berupa makanan dan minuman selama berada di luar rumah.Banyak para orang tua memberikan anak-anak mereka uang saku untuk memperkenalkan kepada mereka dasar-dasar bagaimana mengelola uang. Memberian uang saku secara reguler merupakan cara yang baik bagi anak untuk belajar tentang nilai uang dan sekaligus menumbuhkan kemampuan pengelolaannya. Selain itu, uang saku akan mengajarkan tanggung jawab dan disiplin sejak dini. Uang saku membantu anak memahami prinsip dasar pengelolaan uang.

Manfaaat
Daripada anak memaksa minta dibelikan barang dari dompet Anda, lebih baik anak diberikan uang sakunya. Dengan uang tersebut anak dapat memutuskan apa yang akan dibelinya. Sehingga anak tahu bahwa uang yang tersedia jumlahnya terbatas. Dengan uang saku, anak anda dapat mulai belajar mengambil keputusan, menghadapi keterbatasan finansial, dan mengerti keuntungan dari menabung dan bersedekah.Mengenalkan pengelolaan uang berarti juga memperkenalkan nilai uang, cara membuat anggaran, serta menabung. Semakin cepat diperkenalkan, anak akan semakin siap mengelola keuangannya secara mandiri. Konon, kebiasaan anak mempergunakan uang, kelak akan mempengaruhi kemampuannya mengelola keuangan. Untuk itu orangtua perlu mendidik anak dimulai dari hal yang sederhana terlebih dulu yaitu bagaimana memanfaatkan uang saku.Uang sakunya akan berdampak terhadap gaya hidup anak nantinya. Jika anak tidak terbiasa mengelola uang saku, dampaknya akan terlihat ketika harus tinggal terpisah dari orangtuanya. Misalnya, ketika kuliah di luar kota dan menerima uang saku bulanan, mungkin anak akan kikuk dalam mengelola uang sakunya. Atau ketika ia menerima gaji pertamanya kelak. Karena semasa sekolah anak tidak pernah dididik memegang uang saku bulanan. Dampaknya, ia akan merasa gajinya itu sangat besar dan lupa bahwa gaji itu harus cukup hingga waktu gajian berikutnya. Pada anak yang telah terbiasa diberi uang saku untuk sepekan atau per bulan, maka ia akan terbiasa menahan keinginan untuk menghabiskan uangnya di awal pekan/bulan. Jika pembiasaan ini tidak dilakukan sejak kecil, bukan tidak mungkin anak akan kehilangan kontrol dalam kehidupan keuangannya

Kapan Memulai
Tidak ada satu cara baku yang berlaku universal untuk seluruh anak dalam menangani uang saku karena dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti: cara anda mendidik anak, kondisi keuangan, budaya, dsb. Sangat penting untuk memilih cara yang paling tepat untuk keluarga anda pada saat memutuskan kapan untuk memulai.Orangtua perlu menetapkan peraturan pada anak perihal barang-barang yang bisa dibeli dengan uangnya. “Tanamkan pada dirinya bahwa uang saku bukanlah untuk dihabiskan dan bebas membeli apapun, anak harus belajar mempertanggungjawabkan pengeluarannya pada orangtua. Kesiapan anak adalah pertimbangan utama yang harus diperhatikan orang tua sebelum memutuskan memberi uang saku. Orang tua bisa menilai apakah anaknya siap dibebani tanggungjawab untuk membawa, menyimpan dan menggunakan uangnya sendiri. Kesiapan anak untuk menentukan tingkatan uang saku yang diterima, tidak bisa diukur dari usia. Namun sebagai patokan saja, pada anak TK, sebaiknya jangan diberi uang saku dulu, namun dampingi anak jika ingin membeli sesuatu.Pada usia SD kelas awal (1-2-3)  untuk keperluan jajan dan biaya transportasi sekolah, bisa diberikan uang saku yang sifatnya harian. Pada anak usia SD kelas akhir (4-5-6) yang sudah terbiasa mendapat uang saku harian bisa diubah menjadi mingguan. Orangtua perlu melakukan evaluasi, apakah anak sudah mampu mengelola uang saku mingguan dengan baik, sebelum memutuskan memberikan uang saku bulanan.Jika anak sudah dipercaya menerima uang saku bulanan bisa diajarkan mengatur kebutuhan lain, misalnya membayarkan uang les, berlanggananan majalah, sampai hiburan di akhir pekan, membeli buku sekolah, pakaian, dll. Orangtua juga perlu membiasakan anak  menyisihkan uang sakunya bukan untuk keperluan dirinya saja, namun juga untuk  membelikan kado saat teman berulang tahun, untuk kegiatan amal-sosial dan sebagainya.Seiring waktu, orangtua bisa menambah jumlah uang saku anak. Sehingga anak pun bisa menyesuaikan pengelolaan pengeluaran uang sakunya dengan kebutuhannya selama sebulan. Tujuannya, mengajarkan anak untuk membuat pengeluaran yang seimbang antara kebutuhan utama dan belanja yang sifatnya impulsif. Anak akan belajar memilah-milah kebutuhan yang menjadi prioritasnya.Tidak ada penetapan umur yang tepat untuk seluruh anak, tapi pertimbangkan pemberian uang saku selambat-lambatnya pada saat anak anda berusia 10 tahun.  Pada saat itu sebagian besar anak-anak sudah memiliki pengalaman dan kemampuan untuk mempertimbangkan pengeluaran dan penggunaan uang sakunya, meskipun masih membutuhkan bimbingan dari orang tua.

Bagian dari Sedekah
Perlu menetapkan peraturan pada anak perihal barang-barang yang bisa dibeli dengan uangnya. Uang sakunya bukan untuk keperluan dirinya saja, tetapi juga untuk amal sosial/charity, misalnya membelikan kado saat teman berulang tahun. Dan tak kalah pentingnya juga untuk tabungan yang bersifat investasi.Tanamkan pada diri anak bahwa uang saku bukanlah untuk dihabiskan dan bebas membeli apa pun. Anak harus belajar mempertanggungjawabkannya. Kesiapan anak adalah pertimbangan utama yang harus diperhatikan orang tua sebelum memutuskan memberi uang saku.Orang tua perlu melakukan evaluasi apakah anak sudah mampu mengelola uang saku mingguan dengan baik sebelum memutuskan memberikan uang saku bulanan. Jika anak sudah bisa dipercaya menerima uang saku bulanan, bisa diajarkan mengatur kebutuhan lain, misalnya membayarkan uang les, berlanggananan majalah, hiburan di akhir pekan, membeli buku sekolah, pakaian, dan lain-lain.Kesiapan anak untuk menentukan tingkatan uang saku yang diterima tidak bisa diukur dari usia. Sebagai patokan, anak SD kelas I-III bisa diberikan uang saku harian untuk keperluan jajan dan biaya transportasi. Jika mulai kelas IV-VI dan sudah terbiasa mendapat uang saku harian bisa diubah mingguan, dan seterusnya.Seberapa besarkah uang saku yang sebaiknya diberikan? Ini bergantung kepada situasi finansial Anda dan komitmen yang dapat Anda penuhi. Namun agar perencanaan keuangan sesuai dengan sunah, uang saku diberikan dari bagian 3 sepertiga pada pos 1/3 sedekah (charity). Nah bagian dari sedekah inilah yang akan menjadi sumber uang saku anak. Rasul bersabda: “Bersedekahlah kamu! Seorang laki-laki bertanya: Saya punya satu dinar. Nabi bersabda: (1) Sedekahkanlah itu untuk dirimu sendiri. Laki-laki itu berkata: Saya punya satu dinar lagi, Nabi bersabda: (2) Sedekahkanlah untuk istrimu. Padaku masih ada satu dinar lagi: Nabi bersabda: (3) Sedekahkanlah untuk anak-anakmu. Padaku masih ada satu dinar lagi: Nabi bersabda: (4) Sedekahkanlah untuk pembantumu. Padaku masih ada satu dinar lagi, Nabi bersabda: (5) Kamu mengetahui dengannya [HR Abu Dawud, Nasa`i dan Imam Hakim mensahihkannya. Lihat: Fiqhus Sunnah Sayyid Sabiq bab Shadaqah Tathawu`]Dari gambaran hadis tersebut sedekah untuk anak (uang saku) bisa mendapat porsi 1/5 dari 1/3 pendapatan di pos charity/sedekah atau 1/15 (setara 7 persen dari pendapatan keluarga). Contoh jika pendapatan keluarga 2,5 juta, sekitar Rp 170.000 sebulan atau Rp 5.000-6.000 sehari.Halifax, bagian dari Lloyds Banking Group, beberapa bulan lalu melakukan survei terhadap 1.204 anak yang berusia antara 8 dan 15 tahun di Inggris. Hasilnya, rata-rata mereka diberi uang saku mingguan 5,89 pound (setara 9,23 dolar AS; jika 1$ = Rp 9.000,- sepekan Rp 83 Ribu atau 12 ribu sehari). (Agus Rijal, S.E., Perencana Keuangan Syariah Independen)***
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=166637

Melatih Anak Cerdas Finansial
Bagaimana mengajari anak cerdas finansial? Kapan mulainya? Menanam pohon/ tumbuhan yang ia senang memakannya, apakah itu pelajaran cerdas finansial. rita_puspita67@yahoo.com, ibu 4 orang putri
Jawaban;
Anak akan belajar banyak dari apa yang dilakukan orangtuanya. Sebagai orangtua yang gigih untuk mendapatkan rupiah demi rupiah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, kadang lupa mengajarkannya pada anak tentang uang hasil jerih payah yang didapatkan. Akhirnya anak lebih mudah terjebak keadaan konsumtif atau lebih rentan terhadap resiko keuangan.
Melatih anak cerdas finansial selain mengajari langsung kasus yang nyata, bisa juga dengan permainan. Pernahkah Anda bermain monopoli? Ya, sebuah game sederhana yang mengajarkan pelakunya untuk bermain-main dengan uang. Ketika memulai permainan, setiap peserta akan diberikan jumlah yang sama, dan hasil akhir ditentukan siapa yang memiliki aset produktif terbanyak, karena asetlah yang akan menghasilkan uang. Secara tidak langsung, permainan tersebut sedang mengajarkan konsep perencanaan keuangan. Pendapatan boleh sama, tapi hasil menjadi berbeda manakala keputusan keuangan berbeda.
Permainan selain bahan belajar juga lebih banyak sebagai hiburan, jika dilakukan dalam praktek keseharian tentu dampaknya akan lebih nyata. Nah, jika Anda ingin melatih anak cerdas finansial, berikut langkah-langkahnya:
1. Lakukan edukasi secara bertahap (soft learning) dan ajarkan perencanaan. Setiap anak tidak sama persis memiliki kemampuan dalam pembelajaran, hal itu tidaklah penting. Hal utama yang harus dicapai adalah kemandirian keuangan dikemudian hari. Bukan hanya bisa mendapatkan uang sendiri, namun cakap dalam mengelola atau menggunakannya.
Kapan dimulainya? Umumnya anak usia 3 tahun sudah bisa diberikan pengertian dan diajak berbicara, dikenalkan uang, fungsi serta manfaatnya. Saat itulah pelajaran cerdas finansial sedang dilakukan. Perkenalkan anak Anda pada recehan (kertas maupun koin) dan dorong mereka untuk menyimpan di “bank kecil” mereka (gunakan celengan dengan bentuk yang mereka sukai, misalnya hewan atau boneka, dll).
2. Buka tabungan dan ajarkan pencatatan keuangan. Sebelumnya anak-anak mungkin hanya mengenal celengan atau dompet. Beritahukan bahwa menyimpan uang di celengan hanya bersifat sementara dan tidak boleh lebih dari 1 tahun. Mengapa? Ingat kembali nilai waktu dari uang. Bahwa uang yang mengendap tanpa diinvestasikan akan berkurang nilainya karena inflasi atau kenaikan harga. Inflasi menyebabkan daya beli dari uang menurun.
Buku tabungan akan membantu anak untuk mengendalikan keuangan dan memudahkan evaluasi serta pencatatan. Tabungan juga akan membantu mengendalikan penggunaan uang, terutama setelah anak mendapat hadiah/ sedekah atau THR (Tunjangan Hari Raya) dari sanak famili. Nilainya bisa puluhan bahkan ratusan ribu rupiah, jika tidak dimasukan dalam rekening, hanya dalam waktu kurang dari 1 bulan uang tersebut bisa menguap untuk jajan.
3. Biasakan untuk memulai dengan budgeting/ penganggaran. Tahap ini memerlukan latihan yang ekstra, yaitu membuat rencana dan melakukannya. Pada tahap ini orangtua berperan penting dalam mensukseskan pelatihan, misalnya ketika memberi uang saku anak masih SD diberikan harian atau 2-3 harian, setelah SMP diberikan pekanan, dan SMU 2 pekanan atau bulanan. Semakin panjang periode pemberian, dan anak semakin bisa menggunakan sesuai jatah waktu yang diberikan, berarti anak sudah mulai mampu mengendalikan keinginan (keuangan).
Tahap ini awal keberhasilan kecerdasan keuangan anak. Ajak anak untuk berbelanja. Siapkan daftar belanja. Mengapa? Cara ini selain membantu mengingat kebutuhan dan menetapkan skala prioritas kebutuhan sesuai anggaran yang ada, juga menghindari “lapar mata”, yaitu belanja barang-barang yang tidak direncanakan sebelumnya, karena tentu belum Anda anggarkan bukan.
Tahap ini juga mengajarkan anak untuk menabung dan berinvestasi atau mencicil kebutuhan jangka panjang (masa depan) mulai saat ini. Misalnya membeli mainan yang harganya 5-10 kali lipat dari jatah uang sakunya, maka jika ingin mendapatkan barang yang dimaksud, anak harus mencicilnya/ menganggarkan. Saat itu anak akan belajar skala prioritas dan mengendalikan uang saku dan secara tidak sadar sudah memasukan proses perencanaan keuangan, yaitu menetapkan tujuan (goal), melihat kondisi keuangan saat itu, menghitung dan mengimplementasikan rencana, hingga mengevaluasi.
Tahap akhir dari langkah ini adalah masihkah ada sisa dari uang saku yang diberikan? Tahap selanjutnya berinvestasilah agar uang semakin bertambah, tidak hanya dari jatah uang saku yang diberikan.
4. Alokasikan keuangan pada hal-hal yang produktif. Mengajarkan investasi sama halnya dengan mengajarkan anak untuk menanam benih saat ini untuk dituai hasilnya kelak. Berinvestasi tidak hanya dituntut mendapatkan hasil yang optimal/ sesuai yang diharapkan dikemudian hari, namun belajar bersabar dalam menjaga proses/ memeliharanya.
Setelah menguasai dasar-dasar keterampilan keuangan (mengendalikan uang dengan anggaran), maka ajari mereka tentang investasi dan menghasilkan uang, misalnya dengan melakukan pekerjaan sederhana (employee/ self employee) dengan ikut bekerja membantu menyelesaikan tugas ayah atau ibu di rumah atau menjadi pengusaha kecil (business owner/ investor). Tahap ini akan membantu mereka mendapat pemahaman tentang bekerja (kerja keras) dan usaha (bisnis).
5. Jangan lupa untuk mengajarkan sedekah (charity) dari harta yang dimiliki. Ini akan membuat mereka untuk lebih menghargai banyak hal dan akan lebih bersemangat untuk mencari dan menghargai apa yang dihasilkan. Selamat Mencoba (Agus Rijal, S.E., Perencana Keuangan Syariah Independen. Pos Elektronik; RIJAL1807@gmail.com. Tlp 022-7678.5577)***
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=163086

Dampak Keuangan Bila Istri Bekerja
Minta sarannya, saya memutuskan untuk kembali bekerja, selain karena ingin menambah pendapatan keluarga juga untuk mengisi kekosongan waktu, serta memenuhi tuntutan keluarga orangtua. Apa yang harus saya persiapkan? Makasih
hestiagassi@yahoo.com, ibu 2 anak
Jawab;
Suami istri tentu punya sejumlah alasan untuk lebih memilih memiliki dua penghasilan daripada satu penghasilan. Tetapi satu hal yang harus disadari adalah apakah dengan sama-sama bekerja akan menjawab permasalahan keuangan yang muncul?
Ketika Anda sedang berpikir untuk menjawab apakah Anda berdua perlu memiliki dua penghasilan atau tidak, pusatkan perhatian untuk menjawab pertanyaan tentang berapa yang akan dihasilkan berdua secara bersih setelah dikurangi 3 komponen biaya yang akan dipaparkan diakhir tulisan ini (plus minusnya). Setelah itu, lihat apakah jumlah tersebut memuaskan atau tidak. Lalu lihat lagi apakah jumlah tersebut sebanding dengan hal-hal non material yang dikorbankan, seperti waktu yang hilang bersama anak, kemudahan dalam merawat anak (Anda berdua tidak perlu lagi punya pengasuh), dan seterusnya dan seterusnya. Namun, bagi istri yang biasa bekerja diluar rumah, kemudian tidak bekerja, juga akan menjadi masalah tersendiri, ketika dirinya hanya melakukan pekerjaan rumah saja, sehingga istri tidak bekerja bukan juga berarti tidak ada dampak.
Banyak latar belakang mengapa seorang perempuan harus bekerja, kendati dirinya sudah berkeluarga. Bukan semata-mata tuntutan kebutuhan keuangan keluarga, namun juga ada karena keinginan untuk mengaktualisasikan diri.
Apapun alasan bekerja itu dilakukan bagi perempuan yang sudah menikah, jangan sekali-sekali Anda meremehkan biaya-biaya yang muncul ketika istri harus bekerja. Sebelum si istri mengambil keputusan untuk bekerja atau tidak, cobalah menghitung biaya-biaya tersebut dengan hati-hati di atas kertas, dan bandingkan dengan apabila si istri tetap berada di rumah. Alih-alih ingin ikut berperan mensejahterakan keluarga, malah menjadi pemicu retaknya mahligai pernikahan. Sehingga esensi pernikahan (berkeluarga) menjadi kabur atau bahkan hilang, bahkan muncul masalah-masalah lain selain ekses keuangan.
Berikut 3 point utama keuangan yang harus diperhatikan;
1. Pengurusan rumah & makanan. Seorang istri bekerja pastilah akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi tertentu. Apalagi bila istri harus bekerja full time. Misal, waktu istri belum bekerja, rumah selalu rapi dan bersih. Tapi setelah istri bekerja, ia tak sempat lagi melakukannya. Karena sepulang kerja, badannya sudah lelah dan ia lebih memilih langsung memegang anak daripada membersihkan rumah atau juga urusan makanan.
Tidak jarang seorang istri tidak sempat menyiapkan sarapan untuk suaminya karena harus buru-buru berangkat kerja. Parahnya lagi jika sang istri hanya sempat meninggalkan pesan untuk suaminya, bahwa kalau mencari lauk, di kulkas ada telur, tahu, tempe semuanya tinggal menggoreng, kalau perlu mie instan di lemari juga ada, dan kalau pengin minuman hangat, di termos sudah tersedia air panas.
Biasanya setiap pagi istri selalu menyiapkan sarapan untuk suaminya yang hendak berangkat kerja. Setelah istri juga bekerja, kebiasaan itu perlahan-lahan menghilang lantaran tuntutan pekerjaan yang mengharuskan istri tiba di kantor lebih awal. Atau, biasanya istri yang memasak setiap hari untuk keluarga, tapi sekarang ia hanya bisa melakukannya di saat libur atau weekend saja.
Nah, perubahan-perubahan ini, bila sebelumnya tak diantisipasi oleh istri maupun keluarganya, tentu akan menimbulkan persoalan. Sering timbul konflik batin dalam diri istri karena kewajibannya tidak tertunaikan, untuk itu diperlukan biaya hiburan (refreshing) lebih besar untuk mengatasi masalah tersebut, selain menyiapkan pembantu untuk mengurusi rumah dan juga baby sitter untuk menemani anak.
2. Pengurusan Anak; perawatan dan hiburan menjadi tambahan pengeluaran yang harus dipertimbangkan. Sudah jelas, bila kedua orangtua bekerja di luar, tentu tak ingin anak terlantar di rumah. Anda memerlukan seorang pengasuh anak, dan harus membayar gajinya setiap bulan. Besar kecil gaji tersebut tergantung tinggal dimana. Bila di kota besar, maka gaji yang harus dibayar tentu saja akan lebih besar dibanding apabila tinggal di luar kota besar yang memiliki biaya hidup lebih rendah. Selain itu, dengan anak yang sering ditinggal, membuat Anda harus lebih banyak memberikan hiburan dan membelikannya mainan agar ia tak bosan dengan kesendiriannya.
3. Biaya Kerja; transportasi, komunikasi, pakaian, hiburan/ pergaulan. Kalau tadinya hanya si suami yang mengeluarkan biaya untuk transportasi, sekarang dengan si istri yang juga ikut bekerja, si istri juga harus mengeluarkan biaya transportasi. Istri juga harus mengeluarkan uang untuk membeli busana kerja yang baru, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pekerjaannya, misalnya makan diluar rumah, entertaiment, dll.
Setelah menghitung semuanya, bandingkan antara Anda bekerja (termasuk memlihih jenis pekerjaan) dan tidak bekerja, berapa prosentase manfaat yang diperoleh. Kemudian coba simulasikan juga jika ada alternatif lain, yaitu dengan tetap tidak bekerja namun mensupport suami untuk meningkatkan penghasilannya, apakah membantu kerja rumahan (bila wiraswasta atau pekerjaan suami yang bisa dikerjakan dirumah) atau meningkatkan pengetahuan terkait investasi. Bekerja bukanlah satu-satunya sumber penghasilan. Barakallahufiq (Agus Rijal, S.E., email, RIJAL1807@gmail.com, Perencana Keuangan Syariah Independen)***
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=158369

Kelayakan Keuangan Usaha & Investasi
Minta sarannya, saya punya sebuah warnet bagaimana manajemen keuangan, pembagian pengeluaranya per bulan dengan karyawan 2 orang. Makasih
ummi_salim@yahoo.com
Jawaban;
Analisa Sebagai Pemilik Usaha
Terima kasih pertanyaanya, walaupun data terbatas, semoga jawabannya dapat optimal. Untuk usaha pribadi/ usaha kecil, sebaiknya menggunakan pedoman manajemen keuangan layaknya perusahaan besar, terutama ketika memutuskan investasi sebaiknya melakukan studi kelayakan usaha, agar jalannya usaha dapat dikontrol/ dikendalikan (bukan spekulasi). Berikut contoh cashflow/ arus kas untuk menentukan budgeting dan studi kelayakan usaha (SKU), baik sebelum usaha dijalankan atau usaha sudah berjalan;
1. Tentukan pengeluaran harian/ mingguan atau bulanan berapa? Untuk memudahkan satuan bulanan
– listrik
– telepon & bayar provider
– sewa tempat (jika tahunan dibagi 12)
– gaji operator/ penjaga (2orang @berapa), jika mingguan bagia jadi harian kali hari kerja
sebulan
– toileting/ biaya lain-lain (kebersihan dsb)
contoh anggaran (sebaiknya dibuat riil rata-rata pengeluaran yang biasa terjadi); (100rb+150rb+300rb+(2x600rb)+125rb) total pengeluaran bulanan Rp 1.875.000 per bulan (biaya tersebut belum termasuk pemeliharaan dan penyusutan peralatan/ aset)
2. Tentukan pendapatan harian/ bulanan, misal punya 6 user pendapatan per hari 180rb (artinya per user 30 ribuan; jika sejamnya 2.500 maka jam operasional 1 user perhari 12 jam tanpa diskon dan promosi lainnya, juga termasuk gangguan), sebulan 28×180 ribu= 5.040.000 (28 hari kerja perhitungan optimal dengan memasukan jam libur/ hari libur baik sengaja tidak disengaja misalnya gangguan koneksi/ listrik, juga termasuk pemeliharaan komputer sebulan sekali). Cara ini juga bisa dijadikan dasar strategi harga (marketing), bisa lebih tinggi atau lebih rendah dari Rp 2.500,-.
0mzet 5 juta sebulan apakah layak atau tidak? Ibarat main layangan harus bisa memastikan tarik ulur disaat yang tepat, agar terbangnya bisa lebih baik. Mengapa? tidak selamanya pendapatan 180rb, jika dirata-ratakan tercapai pun lihat lebih luas, .misalnya apakah 12 jam online setiap PC bisa dicapai, jadi otomatis jam kerja harus (minimal 24 jam jika estimasi online 50% setiap harinya, itu pun harus 6 PC, kenyataan kan tidak setiap jam PC penuh)
Net income versus investasi; 5 juta (pendapatan) – 2 juta (pengeluaran)= 3 juta
Berapa investasi diwarnet Anda? Misalnya 30 juta, maka secara payback periode (waktu pengembalian) 10 bulan, atau titik pulang pokok/ impas/ B.E.P setelah 10 bulan, selebihnya menjadi keuntungan business owner/ pemilik usaha sekaligus pasif income. Keadaan ini yang dikehendaki pemilik, namun apakah tepat? Coba analisa jika berinvestasi di sektor lain (analisa sebagai investor).
Analisa Sebagai Investor
Bagaimana jika investasi menggunakan investor? Misalnya investasi 30 juta akan dikembalikan 10 bulan (pokok) dan bagi hasil 50:50 setelah itu, maka 3 juta langsung dicicilkan/ dikembalikan pada investor tanpa keuntungan (jika ada kelebihan dana dianggap sebagai cadangan kas, begitupun kekurangan). Maka keuntungan 3 juta setelah 10 bulan menjadi 1,5 juta atau setara <5% sebulan (asumsi modal tetap 30 juta), itu pun jika pendapatan usaha tetap 5 juta sebulan.
Bagi investor (misal 2 tahun), berapa persen keuntungan? modal 30 juta, keuntungan 14 bulan x 1,5 juta = 21 juta atau 32-33% setahun (70%; 2 tahun atau total waktu investasi. Nilai investasi ingat ada compound)
Compounded maksudnya, jika inves 30 juta kemudian keuntungan setahun ditaksir 32% maka total dana ditahun kedua menjadi 39,6 juta (atau 30 juta ditambah keuntungan 32% sebesar 19 juta) atau 2 tahun menjadi 52,72 (jadi keuntungan menjadi rata-rata 37% setahun atau dalam 2 tahun 75%), padahal kita hanya menghitung 32% setahun.
Sementara jika diinvestasikan pada usaha, selama 2 tahun praktis modal tidak berkembang, menunggu kembali modal. Berbeda dengan investasi disektor lain.
Dalam berinvestasi, yang jarang dihitung adalah masa tertahannya modal. Padahal jika modal tersebut diputarkan sebagai investor akan jauh lebih besar hasilnya dibandingkan dengan usaha sendiri.
Investor yang cerdas maka akan melihat angka 30% ini layak atau tidak sebagai keuntungan investasi, tentu akan menilai kestabilan usahanya. Jika beresiko tinggi sementara keuntungan rendah, lebih baik investasi pada usaha lainnya atau sektor non real (reksadana, emas, saham, deposito, dll). Urutan investasi dan keuntungan rata-rata;
1. tabungan & deposito <8% setahun
2. Emas & Obligasi 30% setahun (trend naik)
5. Wirausaha >30% (manajemen harus baik/ stabil)
Jika ditawarkan investasi warnet dengan analisa seperti diatas, tentu akan berpikir lebih jauh untuk menginvestasikan dana di bisnis tersebut. Mengapa? Keuntungan yang relatif tidak begitu besar namun resiko ketidakpastian jauh lebih tinggi, dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya yang relatif terukur. Barakallahufiq (Agus Rijal, S.E., email, RIJAL1807@gmail.com, Perencana Keuangan Syariah Independen)***
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=156425

5 Langkah Menuju Baitullah
Hari Raya Idul Adha menjadi kesan tersendiri bagi umat Islam. Betapa tidak, selain fokus perhatian pada peristiwa perayaan kurban dimasing-masing daerah, juga pandangan diarahkan ke Baitullah dan sekitarnya, dimana pelaksanaan haji sedang dilangsungkan. Jika Anda merindukan dapat mengunjungi baitullah. Berikut 5 langkah perencanaan keuangan umrah (cara ini juga bisa digunakan untuk merencanakan keuangan haji, kurban, mudik, investasi pendidikan anak, modal usaha, dll);
Langkah 1; Menentukan/ merencanakan tujuan dengan rinci, kemudian juga ditetapkan target waktunya (misalnya Umrah 5 tahun kedepan), kemudian hitung budgeting/ penganggarannya, dll
Contoh daftar budgeting Umrah berdasarkan biaya saat ini;
– Biaya Travel & Adm/ lain-lain 17.000.000,-
– Uang Saku (jajan) 2.000.000,-
– Oleh-oleh 2.000.000,-
– Lain-lain (cadangan) 1.000.000,-
Total Anggaran yang dibutuhkan 22.000.000,-
Langkah 2; Melihat situasi keuangan saat ini. Pada tahap ini berusahalah realistis, berapa dana yang bisa disisihkan secara rutin, untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Langkah ini akan erat kaitannya dengan langkah-langkah berikutnya.
Jika dana yang disisihkan terlalu kecil maka solusinya hanya ada 2, meningkatkan kinerja investasi lebih tinggi dari yang diperhitungkan dilangkah 3 atau menambah waktu investasi (menunda tujuan). Begitupun jika hasil yang diharapkan (keuntungan investasi) kurang dari yang diharapkan dari yang diperhitungkan dilangkah 3, maka solusinya menaikan jumlah dana yang disisihkan untuk investasi atau menambah waktu investasi.
Langkah 3; Menghitung dan mempersiapkan investasi. Langkah ini merupakan awal dari proses investasi, untuk menjadi panduan dan mengevaluasi rekening investasi umrah Anda. Contoh, setelah menyusun seluruh keperluan sesuai langkah 1 diperkirakan mencapai 22 juta, maka 5 tahun kemudian biaya tersebut naik rata-rata 10% setiap tahunnya atau 1,61 kali menjadi 35,45 juta. Menentukan angka pengkali 1,61 dapat menggunakan rumus inflasi (kenaikan biaya/ harga);
(1+k)ⁿ
k = kenaikan biaya yang diperkirakan (bulanan/ tahunan)
n = pangkat jumlah waktu (bulan/ tahun)
Penjelasan; Misal untuk kenaikan biaya 5 tahun ke depan dengan rata-rata 10% per tahun, maka (1+0,1) x (1+0,1) x dst (5 kali) atau (1+0,1) pangkat 5. Maka akan didapat faktor pengkali 1,61, artinya jika seluruh biaya yang dihitung saat ini diperkirakan naik 10% per tahun, 5 tahun kedepan menjadi naik 1,61 kali. Atau menggunakan kalkulator biasa dengan memijit angka dasar kenaikan 1,1, kemudian pijit x atau kali, dan pijit = atau sama dengan (sesuai jumlah waktu kenaikan bulanan/ tahunan, dikurangi 1 kali), contoh untuk kenaikan 10% (angka dasar 1,1 =100%+10%), untuk 5 (lima) tahun cukup pijit 1,1 kemudian pengkali dan sama dengan 4 kali.
Setelah mendapat jumlah dana yang harus dicapai, maka langkah selanjutnya menentukan berapa dana yang harus disisihkan. Ada 2 cara, yaitu Lump sum (sekaligus dimuka) atau dicicil. Contoh, Jika dana yang akan digunakan 35,45 juta 5 tahun kedepan, awal tahun investasi dengan tingkat keuntungan 30% setahun harus menyisihkan 9,6 jutaan (sekaligus) atau menyicil 4 jutaan setahun/ 327 ribu sebulan (bisa juga 2 bulanan, 3 bulanan, dst). Angka tersebut didapat dengan menggunakan rumus investasi rutin (bulanan/ tahunan);
[(1+k)ⁿ -1] : k
k = keuntungan investasi yang diharapkan (bulanan/ tahunan)
n = pangkat jumlah waktu (bulan/ tahun)
Penjelasan; Jika asumsi keuntungan investasi untuk 5 tahun ke depan dengan rata-rata 30% per tahun (net setelah dipotong biaya-biaya), maka [[(1+0,3) x (1+0,3) x dst (5 kali)] – 1 ] : 0,3 atau (1+0,3) pangkat 5 dikurangi 1 dibagi 0,3. Maka faktor pembaginya 9,04 tahunan atau 108,52 bulanan, artinya jika seluruh biaya yang dihitung saat ini ingin dicapai dengan keuntungan rata-rata 30% per tahun, maka selama 5 tahun kedepan harus menyisihkan sebesar jumlah dana yang diharapkan (35,45 juta) dibagi 9,04 tahunan atau 108,52 bulanan.
Atau menggunakan kalkulator biasa dengan memijit angka dasar keuntungan 1,3, kemudian pijit x atau kali, dan pijit = atau sama dengan sesuai jumlah waktu (bulanan/ tahunan) dikurangi 1 kali. Kemudian setelah mendapatkan hasil lanjutkan dengan memijit angka minus dan 1 (kurangi 1) dan pijit : atau pembagi dan masukan % keuntungan dalam desimal, lalu pijit sama dengan (=). contoh untuk keuntungan 30% (angka dasar 1,3 =100%+30%), untuk 5 (lima) tahun cukup pijit 1,3 kemudian pengkali dan sama dengan 4 kali. Kemudian kurang dengan angka 1 dan bagi dengan 0,3 (keuntungan 30%), serta akhiri dengan pijit sama dengan.
Langkah 4; Mengimplementasikan investasi. Memilih produk investasi merupakan langkah penting setelah mengantongi angka berapa persen keuntungan yang harus dicapai dan berapa dana yang harus/ siap disisihkan. Langkah ini erat kaitannya dengan langkah terakhir yaitu evaluasi yang harus dilakukan beberapa bulan setelah investasi berjalan, apakah sesuai atau tidak dengan hasil yang diharapkan.
Langkah 5; Mengevaluasi. Lakukan evaluasi dengan membandingkan hasil kinerja investasi dengan target yang diharapkan. Jika terjadi ketidaksesuaian, segera lakukan koreksi/ penyesuaian dengan menambah/ menaikan jumlah setoran, memperpanjang waktu setor, atau beralih pada produk keuangan lainnya. (Agus Rijal, S.E., Perencana Keuangan Syariah Independen. Email; RIJAL1807@gmail.com. Tlp 022-7678.5577)***
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=161261
http://majalahpercikaniman.blogspot.com/

Merencanakan Beribadah Haji
Perencanaan keuangan sebenarnya adalah suatu perencanaan yang terintegrasi untuk memegang kendali atas hal-hal yang menyangkut kebutuhan dan penggunaan uang demi mencapai kondisi keluarga yang sejahtera secara finansial. Tidak hanya saat ini tetapi juga untuk masa yang akan datang, tak hanya menabung untuk pendidikan anak, tetapi juga persiapan naik haji.
Perencanaan keuangan sangat diperlukan oleh seseorang atau keluarga untuk memperbaiki atau mempertahankan gaya hidup, memperkecil terjadinya masalah keuangan, dapat berinvestasi secara optimal, serta mengakumulasikan kekayaan dalam suatu jangka waktu tertentu.
Umrah dan haji
Jarak antara Arab Saudi dan Indonesia sangat jauh, sehingga untuk bisa berangkat ke sana diperlukan biaya yang tidak sedikit. Namun, faktor biaya tersebut bukan menjadi halangan jika kita dapat melakukan perencanaan keuangan dengan baik. Proses perencanaan keuangan tersebut dapat dilakukan melalui tahapan seperti halnya manajemen (perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi).
Secara umum, terdapat lima tahap perencanaan keuangan, yaitu sebagai berikut:
1. Menentukan tujuan keuangan
Dalam Islam, ibadah haji merupakan salah satu rukun yang wajib ditunaikan. Menetapkan tujuan atau target harus specific, measurable, achievable, realistic dan time bond (SMART). Artinya disesuaikan dengan keadaan Anda juga, tanpa mengurangi semangat mewujudkannya dengan rencana target waktu yang jelas, misalnya 7 tahun lagi ketika usia 40 tahun, dst.
2. Menganalisis kondisi keuangan saat ini (pendapatan dan pengeluaran)
Setelah menetapkan tujuan, maka sekarang Anda dihadapkan pada realita keuangan yang ada saat ini. Jika tujuan keuangan kita sudah benar dan gaya hidup serta pola konsumsi sesuai dengan yang Allah SWT perintahkan, yaitu tidak kikir dan tidak boros, yakinlah Allah SWT akan senantiasa menyertakan rezeki-Nya.
Kami memiliki kiat praktis, yaitu rumus 30%:30%:40%. Komposisi ini setelah diadaptasikan dengan konteks kekinian, bersandar dari hadis riwayat Imam Muslim yang isinya menceritakan seorang pengusaha yang senantiasa menginfakkan hartanya di jalan Allah, 1/3 untuk dimakan keluarganya, 1/3 dijadikan modal kembali untuk usahanya, dan 1/3 lagi diinfakkan untuk orang-orang yang membutuhkan (fakir miskin).
Misalnya, penghasilan Anda Rp 2 juta. Dana masa depan keluarga (semi produktif; biaya pendidikan anak & perjalanan haji termasuk dari sini) yang disisihkan 30 persen dari penghasilan x Rp 2 Juta = Rp 600.000. Biaya hidup 30 persen (konsumtif; kebutuhan pokok saja) x Rp 2 Juta = Rp 600.000. Sisanya, modal kerja (produktif; biaya membangun aset/akumulasi kekayaan & proteksi dimasa kerja, konsumsi, dan saat kerja) 40% x Rp 2 Juta = Rp 800.000. Bila salah satu lebih besar persentasenya, artinya ada yang “dikorbankan”. Apakah masa depan anak dan masa pensiun, ataukah akumulasi kekayaan/membangun aset.
Bila niat sudah bulat untuk beribadah haji, ada solusi terbaik, yaitu mendisiplinkan diri menabung dan berinvestasi, berapa pun jumlahnya. Secara matematis juga bisa dihitung dari kebiasaan menabung kita. Untuk menghitungnya, kita perlu tahu dulu biaya ONH (ongkos naik haji) saat ini.
Macam-macam produk investasi dengan tingkat keuntungan (informasi diolah berbagai sumber):
A. Tabungan (jangka pendek; keuntungan rendah) < 7 %
B. Deposito berjangka (jangka pendek; keuntungan rendah) 15-20%
D. Emas (jangka menengah panjang; keuntungan sedang) >10%
E. Barang-barang koleksi atau unit-unit usaha (keuntungan sedang-tinggi) >10-20%
F. Pasar modal (unitlinked, reksadana, obligasi, saham –keuntungan sedang-tinggi) > 7-20%
Menentukan jenis investasi saja tidak cukup bila hasilnya tidak terukur secara nyata. Oleh karena itu, Anda sebaiknya memiliki lembar evaluasi tersendiri untuk dana haji, apalagi bila jenis investasinya lebih dari satu, misalnya tidak hanya tabungan haji (berbentuk tabungan), juga ada deposito emas, saham, dan lain-lain.
Hal penting yang harus diperhatikan:
1. Program tabungan investasi yang dipilih. Selain menguntungkan, kita juga harus dapat memastikan tabungan investasi yang dipilih memiliki manfaat asuransi yang belum dimiliki (kesehatan, kondisi kritis, bebas premi, cacat tetap, dan premi meninggal).
2. Jenis investasi dengan tingkat risiko (bukan sekadar keuntungan) harus terukur. Sebaiknya benar-benar mehamami dan menguasai bidang investasinya, sehingga terhindar dari unsur gambling).
Jika Anda tak yakin dengan penghitungan sendiri, Anda dapat meminta bantuan kepada seorang perencana keuangan (financial planer). (Agus Rijal, S.E. / Arrijal & Partner`s)***
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=124777

Perencanaan Keuangan Berhaji (Bagian 1)
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia kepada Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Q.S. Ali Imran (3 : 97)
Dalam Islam, ibadah haji merupakan salah satu rukun yang wajib ditunaikan bagi yang mampu. Tak heran jika semangat untuk mengadakan perjalanan ke Baitullah tersebut telah tertanam dalam jiwa setiap Muslim. Untuk itulah, diperlukan ikhtiar untuk mendapatkan “tiket undangan” tersebut. Selain mempersiapkan jiwa, hal yang tak kalah penting adalah mempersiapkan keuangan.
Menurut para ulama, kata manistatho`a, yaitu (bagi) orang yang sanggup dalam Q.S. Ali Imran lebih mengarah pada ujian bagi setiap Muslim agar berazam (niat bersungguh-sungguh mengerjakannya) bahwa haji sama wajibnya dengan salat lima waktu, saum Ramadan, dan berzakat.
Perencanaan keuangan bukan hanya diperlukan oleh seseorang atau satu keluarga untuk memperbaiki atau mempertahankan gaya hidup, berinvestasi secara optimal, dan mengakumulasikan kekayaan dalam suatu jangka waktu tertentu, melainkan juga dapat dijadikan alat bantu untuk menjalankan ibadah secara terencana.
Ada lima langkah yang bisa diambil dalam merencanakan keuangan agar bisa berangkat haji:
1. Menentukan tujuan keuangan.
2. Menganalisis kondisi keuangan saat ini (pendapatan dan pengeluaran).
3. Membuat rencana keuangan (menentukan waktu dan jenis investasi).
4. Melakukan implementasi dari rencana keuangan (menempatkan dan menyisihkan dana sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan).
5. Monitor dan evaluasi berkala (melakukan perbandingan kesesuaian target/rencana dengan hasil, serta melakukan penyesuaian bila diperlukan).
Kalau kita perhatikan saudara-saudara kita dahulu, mereka bisa pergi haji dengan menjual tanah, emas, atau hewan ternak mereka. Itulah alat investasi, benda-benda yang memiliki nilai yang naik atau setidaknya tidak habis dimakan waktu.
Dibandingkan dengan tanah dan benda investasi lainnya, emas lebih efektif digunakan karena memiliki nilai fluktuasi yang stabil (tidak ekstrem, tetapi sebanding dengan keuntungannya) jika dibandingkan dengan jenis investasi lainnya yang menjanjikan keuntungan lebih besar. Ketahanan terhadap krisis pun lebih tinggi serta mudah untuk dilikuidkan (dijual untuk mendapat mata uang sebagai biaya ongkos haji), pembeliannya pun dapat dicicil setiap waktu. Dalam hal zakat, nisab emas, jika simpanan emasnya sudah melebihi 85 gram, tinggal mengeluarkan zakatnya sebanyak 2,5 persen dari jumlah emas yang dimiliki tanpa melihat nominal.
Menurut para pegiat investasi emas, cara menghitung investasi emas juga mudah. Karena harga emas cenderung naik sejalan dengan inflasi, jadi tinggal membagi saja target emas, misalnya 160-200 gram (setara dengan 160 gram x harga emas saat ini sekitar Rp 300.000/gram = Rp 48 juta) dengan jumlah tahun kita akan berangkat haji. Sebagai contoh adalah ilustrasi berikut:
Saat ini, simpanan emas yang sudah dimiliki 50 gram. Untuk menghitung berapa gram emas yang harus dipersiapkan untuk bisa beribadah haji, hitungannya adalah sebagai berikut.
Biaya yang diperlukan = 160 gram x 2 (jika berdua) = 320 gram emas.
Biaya yang sudah ada = 50 gram emas dikurangi biaya yang masih perlu disiapkan = 270 gram emas.
Tabungan emas = 270 gram/5 tahun = 54 gram/tahun = 4,5 gram/bulan.
Dari perhitungan tersebut terlihat bahwa apabila ingin beribadah haji pada lima tahun yang akan datang, perlu menabung 54 gram emas per tahun atau 4,5 gram setiap bulannya. Jika hal tersebut dilakukan dengan rutin, pada tahun kelima sudah bisa memiliki 270 gram emas untuk biaya ibadah haji untuk dua orang.
Jika harga emas saat ini Rp 300.000, 4,5 gram setara Rp 1.350.000. Perhitungan ini bukan berdasarkan kurs atau menyesuaikan dengan kenaikan harga emas, maka yang jadi persoalan adalah angka Rp 1,35 juta akan selalu berubah mengikuti harga emas saat kita membeli. Jika harga emas turun, akan menguntungkan. Akan tetapi, jika naik, misalnya Rp 350.000, 4,5 gram setara Rp 1.575.000.
Masalah lain, ketika emas dicairkan atau dijual saat harus menyetor biaya haji (tidak bisa dengan emas), maka apakah harganya naik atau turun. Menghitung dengan dasar besarnya emas yang harus ditabung, yang tetap bukan setorannya, tetapi jumlah tabungan emas per bulannya dan jumlah nominal (rupiah) yang kita setor berubah-ubah. Berbeda dengan setoran rupiah per bulan yang tetap, yang berubah adalah jumlah unit investasi –apakah emas, reksadana, obligasi, saham, dll. (Agus Rijal, S.E., Marketing and Financial Consultant ArRijal & Partner`s)***
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=131276

Berhaji dengan Rp 100.000 (Bagian 2 dari 3 tulisan)
Anda bisa menyisihkan Rp 100.000 per bulan? Selamat Anda sudah mempersiapkan dana haji. Ingin tahu caranya?
Intinya, naik haji bisa dengan Rp 100.000 asal niat direncanakan dari sekarang juga dan dimulai. Investasi biasa dimulai dari emas dengan return 18 persen-20 persen per tahun dan diperkirakan berangkat 20 tahun kemudian. Jika sekarang usia Anda 30 tahun, berangkat usia 50 tahun. Kalau ingin berangkat lebih cepat atau lebih pendek periodenya, dapat mencari investasi dengan keuntungan lebih dari 20 persen per tahun atau jumlah dana yang harus disisihkan lebih besar lagi.
Banyak ragam investasi yang bisa dipilih jika menggunakan reksadana/ unitlinked, berikut gambaran kisaran keuntungan yang bisa dijadikan dasar dalam perhitungan:
Reksadana pendapatan tetap:
9% -13%
Reksadana dana saham :
20%-48%
Reksadana kombinasi :
12%-25%
Reksadana pasar uang :
6%-10%
Khusus wirausaha, bila investasi dilakukan pada perusahaan sendiri, pisahkan dulu keuangan pribadi dan keuangan usaha. Kemudian pisahkan juga investasi haji yang disetorkan sebagai modal dan keuntungannya, untuk itu perlu dibuka rekening pembantu. Dana yang diinvestasikan benar-benar dihitung layaknya perusahaan membagi keuntungan bagi investornya.
Bagaimana menghitung biaya haji dari waktu ke waktu?
Untuk menghitung, kita perlu tahu dulu biaya ONH (ongkos naik haji) saat ini. Misalnya, untuk embarkasi Jakarta, ongkos pada 2009 (1430 H) adalah 3.444 dolar ditambah Rp 100.000. Dengan asumsi dolar Rp 10.500, total biaya mencapai Rp 36.262.000. Tahun sebelumnya (2008), ongkosnya adalah 3.430 dolar AS plus Rp 501.000. Dengan dolar senilai Rp 9.500,00 total biaya mencapai Rp 33.086.000. Jadi, dapat disimpulkan kisaran biaya dalam rupiah sebagai dasar perhitungan adalah Rp 35 juta untuk biaya penyelenggaraan haji dan Rp 15 juta biaya tambahan (proses dari mulai berangkat hingga tiba di tanah air) sehingga total biaya haji (bukan plus) untuk satu orang diasumsikan 50 juta. Sementara, inflasi atau kenaikan biaya setiap tahunnya rata-rata 10 persen. Berapa pun besarnya kenaikan dan ketidakpastian nilai tukar, perencanaan keuangan dapat membantu Anda untuk merancang program haji dan umrah.
Berikut ini beberapa pendekatan kasus (perhitungan ini idealnya dilakukan dengan menyisikan dana rutin):
Kasus I: Untuk memudahkan memberikan ilustrasi, ambil saja seluruh ONH saat ini Rp 50 juta sebagai patokan (Rp 35 juta ONH+ Rp 15 juta lain-lain, jadi dihitung atau ditambahkan biaya tak terduga sebelum, sesudah, maupun selama perjalanan haji). Kapan rencana berangkat? Jika 15 tahun kemudian, angka 50 juta akan setara atau akan menjadi Rp 222,5 juta (50 juta x faktor kenaikan 10% per tahun selama 15 tahun –angka pengkali + 4,45 didapat dari pembulatan rumus (1+i%)n atau (1,1)x(1,1), dst 15 kali (sesuai jumlah tahun).
Dengan memperhitungkan kenaikan 10 persen per tahun, dengan menghitung penyesuaian terhadap inflasi (kenaikan biaya) kita tidak perlu mengkhawatirkan kenaikan ONH dari tahun ke tahunnya.
Untuk menentukan jumlah dana yang harus disisihkan, perlu dicermati keuntungan bersih yang bisa diperoleh pada tabungan atau investasi dalam satu tahun. Semakin besar rata-rata keuntungan yang didapat, kian kecil dana yang harus disisihkan. Artinya, kemampuan menentukan jenis investasi akan sangat berpengaruh. Misalnya keuntungan yang diperoleh 12 persen (moderat), setiap bulan perlu menyisihkan Rp 441.000,00 (222,5 juta: faktor tabungan 12 persen per tahun selama 15 tahun –angka + 504,58 sebagai pembagi faktor tabungan 12% didapat dari pembulatan rumus …………(1+i%)n atau (1,1)x(1,1), dst 15 kali (sesuai jumlah tahun).
Jika bisa memainkan investasi dengan keuntungan yang lebih besar, misalnya 2 kali lipatnya (25 persen-30 persen), untuk bisa berangkat ke tanah suci kita cukup menyisihkan 150.000-200.000 per bulan. Ringan, bukan?.
(Agus Rijal, S.E., Marketing & Financial Consultant ArRIJAL & Partner`S)
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=132651

10-15% dari Pendapatan untuk Berhaji Bagian 3 (Habis)
Tulisan sebelumnya lebih menekankan pada target waktu keberangkatan, tanpa melihat kemampuan menabung. Menyisihkan dana berhaji tidak harus memaksakan target waktu sehingga membebani biaya sehari-hari. Misalnya jika ingin berangkat haji pada usia 40-50 tahun, maka harus menyisihkan Rp 500 ribu, padahal pendapatan tidak lebih dari Rp 2 -3 juta. Jika baru bisa menyisihkan Rp 100 ribu, jalankan saja, yang penting niat dan mulai menyisihkan. Nanti, jika pendapatan sudah meningkat, dihitung kembali kekurangannya dan disesuaikan dengan target waktu.
Dalam metode ”Cara Islam Merencanakan Keuangan”, perencanaan keuangan bagi seorang Muslim harus memenuhi tiga kebutuhan pokok, yaitu: 1. Konsumsi keluarga (kebutuhan pokok), 2. Produksi (modal kerja), dan 3. Charity (sosial dan ibadah/ kewajiban masa depan). Jika dibagi rata setiap pendapatan kita pada pos-posnya, insya Allah hak dan kewajiban semua pihak akan tertunaikan. Jangan sampai cicilan dana berhaji terkalahkan oleh cicilan-cicilan lainnya dan tidak pernah terprioritaskan karena berdalih diwajibkan bagi yang sanggup (mampu). Berikut ilustrasi dana haji yang disiapkan sebagian dari 1/3 pendapatan.
Kasus 2 (menyesuaikan pendapatan):
Perencanaan keuangan tidak hanya membangun impian, tetapi juga berusaha melihat realitas. Jika penghasilan saat ini Rp 1 juta dengan kenaikan penghasilan 10-20 persen (lebih besar lebih baik) dan Anda benar menempatkan porsi keuangan sesuai dengan gaya hidup serta biaya hidup pada penghasilan tersebut, tentunya untuk 10-15 tahun ke depan insya Allah keinginan beribadah haji dapat tercapai dengan menyisihkan 10-15 persen dari penghasilan yang didapatkan (porsi 10 -15 persen ini diambil dari biaya masa depan (charity) yang nilainya 30 persen dari pendapatan total, yang kegunaannya meliputi dana darurat, zakat, infak, sedekah, kurban, haji, termasuk biaya pendidikan anak).
Artinya, dana Rp 100.000-150.000 dapat diinvestasikan pada instrumen investasi dengan tingkat keuntungan jangka panjang (dalam 10-15 tahun) sebesar 30-35 persen (reksadana saham dengan setoran rutin/ dollar cost averaging). Ilustrasi kasus I (pada tulisan sebelumnya -bagian 2 dari 3) bisa diambil dengan menggeser jenis investasi yang tidak lagi moderat (10-12 persen per tahun), tetapi lebih agresif (di atas 20 persen per tahun). Dengan metode setoran rutin, jangan khawatir dengan fluktuasi harga karena akan ter-backup secara otomatis.
Secara perhitungan dapat dijelaskan seperti di bawah ini.
Dana Rp 125.000 per bulan bila disisihkan 12 tahun dengan keuntungan 30 persen per tahun sehingga akan menjadi Rp 174,3 juta (125.000 x faktor pengali keuntungan 1.394,55 –angka 1.394,55 sebagai pengali faktor tabungan 30 persen didapat dari pembulatan rumus (1+i%)n1 + (1+i%)n2 + dst. atau (1,3)n1 + (1,3)n2 + dst. 12 kali (n=sesuai dengan jumlah tahun dan i% sesuai dengan persentase keuntungan rata-rata yang diperoleh). Karena hasil ingin dalam bentuk bulanan, hasil faktor tabungan dikali 12, jadi angka 1.394,55 sebelumnya 116,2125.
Sementara itu, kenaikan ONH Rp 50 juta pada 12 tahun kemudian setara atau akan menjadi Rp 165 juta (50 juta x faktor kenaikan 10 persen per tahun selama 12 tahun –angka pengali 3,30 didapat dari pembulatan rumus (1+i%)n atau (1,1)x(1,1), dst. 15 kali (sesuai dengan jumlah tahun).
Kasus III (Dana sudah besar, tetapi tidak mencukupi)
Jika uang sudah terkumpul 50 persen atau baru dapat menutupi biaya satu orang (dan sebelumnya tidak pernah membuat perencanaan keuangan), sementara ingin berangkat bersama pasangan, solusinya ada dua, yaitu: Pertama, menyertakan pada investasi yang lebih agresif untuk beberapa tahun ke depan melebihi kenaikan biaya (inflasi).
Misalnya, dana ada Rp 25 juta dan ingin berangkat 5 tahun kemudian, maka harus diinvestasikan pada keuntungan investasi sebesar 25 persen per tahun (25 juta x 3,44 –angka pengali 3,44 didapat dari pembulatan rumus (1+i%)n atau (1,25)x(1,25), dst. 5 kali (sesuai dengan jumlah tahun)= 86 juta. Keuntungan ini untuk mengejar kenaikan biaya haji dari 50 juta x 1,65 –angka pengali 1,65 didapat dari pembulatan rumus (1+i%)n atau (1,1)x(1,1), dst. 5 kali (sesuai dengan jumlah tahun) setara kenaikan biaya 10 persen = 82,5 juta). Dengan kata lain, kenaikan biaya 10 persen tertutupi oleh keuntungan investasi yang lebih dari 10 persen. Maka net value (nilai bersih) investasi 25 persen (keuntungan) – 10 persen (kenaikan biaya) sama dengan 15 persen, nilai uang Rp 25 juta akan terus bertambah dengan keuntungan investasi 15 persen (bertambah 61 juta, dari Rp 25 juta menjadi 86 juta). Dalam kasus ini, kepiawaian seorang nasabah menempatkan investasi menjadi kunci keberhasilan.
Kedua, menambah investasi dengan menyicil dan menyisihkan kembali dana jika keuntungan tidak sampai 25 persen.
Semua perhitungan ketiga kasus tersebut dapat dikombinasikan, berlaku juga jika terjadi penyesuaian jumlah setoran dana atau target waktu di tengah masa rencana. Terutama bila pada akhirnya mengalami hal-hal yang kurang sejalan dengan perencanaan, sebaiknya dievaluasi dalam jangka pendek, setidaknya 1-3 tahun dan menengah panjang 5-10 tahun setelah perencanaan dilakukan. (Agus Rijal, S.E., Marketing & Financial Consultant –islamic financial planner, ArRIJAL & Partner`S)
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=133503

Investasi Kurban Rp 5 Ribu Sehari
Hari Raya Idul Adha menjadi kesan tersendiri bagi umat Islam. Betapa tidak, selain fokus perhatian pada peristiwa perayaan kurban dimasing-masing daerah, juga pandangan diarahkan ke Baitullah dan sekitarnya, dimana pelaksanaan haji sedang dilangsungkan. Jika Anda merindukan dapat mengunjungi baitullah, namun belum dapat terlaksana bukan berarti dapat kehilangan kesempatan beribadah di bulan Haji tersebut, bagi yang mampu disunatkan memotong hewan kurban.
Bagaimana kurban agar terencana dengan baik, karena ibadah yang satu ini juga memerlukan kemampuan finansial (keuangan) untuk melaksanakannya, berikut tips investasi kurban;
1. Investasi rutin. Berapakah harga hewan kurban saat ini (2010)? Rata-rata harga pasaran Rp 900 Ribuan untuk berat 21 kilogram, hingga 1,5-1,7 juta untuk berat diatas 30 kilogram (kambing super). Untuk meringankan membeli hewan potong ini sebaiknya dilakukan dengan mencicil, bisa harian, pekanan atau bahkan bulanan. Cara ini sangat tergantung dari kebiasaan dan kenyamanan Anda, dan terlebih lagi adalah kapan pendapatan itu biasa diterima. Jika menyisihkan harian, dalam kurun waktu 11 bulan dari dana Rp 5 Ribu akan terkumpul sekira Rp 1,5 – 1,6 juta. Agar dana tersebut berkembang, sebaiknya disiapkan rekening khusus dan diinvestasikan. Mengapa? Harga hewan kurban umumnya naik dari tahun ke tahun.
2. Jadikan bisnis. Jika selama ini hanya terpikir untuk menabung/ berinvestasi saja untuk 1 kali kurban, kemudian untuk kurban berikutnya menabung kembali, mengapa tidak mencoba untuk menjadikan agenda rutin ini sebuah bisnis. Apalagi bagi Anda yang menghendaki pendapatan tambahan atau hanya sekedar ingin berkurban secara terus menerus setiap tahun hanya dengan sekali investasi. Bagaimana caranya? Jadikan kesempatan ini untuk berinvestasi, hitunglah biaya yang dibutuhkan dan kemampuan dana yang disisihkan. Simpan dana sebagian untuk modal investasi, dan sebagian lagi untuk program kurban Anda.
Mengelola bisnis kambing bisa dilakukan dengan membagi hasil pada peternak (pemelihara), Anda berposisi sebagai investor saja. Biasanya cara ini disebut maro, artinya Anda memberi modal dengan membelikan kambing betina untuk dipelihara, jika beranak langsung dibagi separo-separo. Dalam setahun umumnya beranak 2 kali. Cara ini lebih sederhana bagi Anda yang tidak terbiasa berbisnis dan tidak ada kesempatan mengelola sendiri.
Jika mengelola sendiri, diperlukan investasi untuk tempat, membangun kandang dan membeli beberapa ekor kambing. Sementara untuk menjualnya bisa mengarap pesanan musiman seperti Idul Adha (kurban). Lalu, bisa berlanjut ke momen yang datangnya bisa kapan saja, seperti akikah, atau kebutuhan umum untuk diolah atau dijual kembali untuk dipotong. Untuk promosi bisa melalui advertising (iklan berupa poster, brosur, banner, iklan di media massa, dll), atau promosi penjualan (sales promotion) berupa member voucer diskon akikah yang disematkan dicendramata pernikahaan, mendekati berbagai rumah sakit dan bidan untuk ucapan kelahiran, dsb. Pihak rumah sakit biasanya memberi informasi ketika pasien mendapatkan momongan, umumnya ditawarkan membuat akte kelahiran, saat itulah kesempatan juga penawarkan hewan akikah.
Harga yang ditetapkan tentu berdasarkan besar/ berat dan jenis hewan kurban, dan umumnya keuntungan pun sekira Rp 250 ribu (kambing), dan Rp 1 juta (sapi). Harga tersebut dihitung dari keuntungan pengecer (riteler/ penjual) bukan peternak. Jika hewan diambil dari hasil ternak sendiri, keuntungannya jauh lebih besar dibandingkan dengan mengambil dari pasar atau peternak. Kalau dari ternak sendiri bisa dapat untung dua kali lipat, dengan bibit Rp 600-700 ribu di pelihara kemudian jual. Bahkan bisa 100% jika hasil pengembangbiakan. Dari skema diatas dapat dijadikan langkah-langkah memulai bisnis hewan potong ini.
Cara ini akan berdampak pada keuangan Anda;
– Dapat berkurban tiap tahun, tanpa harus mengeluarkan kembali investasi rutin. Tentu saja kebiasaan nabungnya bisa dialihkan untuk yang lain, misalnya menjadi tabungan/ investasi haji & umrah.
– Dapat dijadikan ladang investasi dan mendapatkan tambahan penghasilan, jika dikelola dengan serius boleh jadi menjadi usaha yang menguntungkan bagi Anda.
3. Mulailah menjadi perantara. Pernah mendengar MLM? Apa yang ditawarkan ketika memulai bisnisnya. Umumnya nyaris tanpa modal. Bisnis ini dikembangkan dengan cara merekrut orang lain untuk menjual produk, dari sinilah Anda mendapatkan komisi. Selain menjual langsung tentunya. Mengapa tanpa modal? Ada beberapa produk yang tidak harus dibeli dulu sebelum transaksi penjualan terjadi, pada posisi ini Anda lebih bersifat perantara/ distributor dan mendapatkan keuntungan dari transaksi tersebut.
Nah, apa hubungannya dengan kurban? Saat ini cara tersebut banyak juga dilakukan bagi mereka yang biasa berdagang hanya sebagai perantara. Coba hitung lagi berapa kebutuhan untuk membeli hewan kurban, tentunya selain untuk pendapatan tambahan Anda tinggal menambahkannya dari harga seekor hewan kurban. Jika keuntungan sekira Rp 100 ribu per hewan (asumsi dari bagi bagi hasil dengan pemilik dengan margin Rp 250 ribu), maka diperlukan sekira 10 hewan kurban yang dijual agar mendapatkan 1 hewan kurban, agar Anda tidak perlu berinvestasi untuk membelinya. Semoga bermanfaat! Barakallahu lakum. (Agus Rijal, S.E., Perencana Keuangan Syariah Independen. Email; RIJAL1807@gmail.com. Tlp 022-7678.5577)***
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=164762

Mengelola THR yang Produktif
Ritual tahunan Ramadhan sering ditutup dengan perayaan lebaran dengan mudik. Kegiatan ini bagi umat Islam senantiasa disambut dengan suka cita. Kegembiraan itu tentu bukan tanpa alasan, mulai dari momentum ibadah hingga kesempatan libur yang lebih panjang dibandingkan dengan liburan lainnya. Meski demikian, ditengah perasaan gembira lebaran, bagi sebagian orang, ada perasaan ‘was-was’ karena mereka khawatir tidak akan bisa merayakan lebaran karena tidak memiliki uang yang cukup. Ada pula yang ‘was-was’ karena takut kondisi keuangannya defisit bahkan hutangnya akan bertambah setelah lebaran usai. Bahkan meski ada Tunjangan Hari Raya (THR) tapi uang itu dianggap belum sepenuhnya menyelesaikan masalah. Kasus seperti itu, bisa saja terjadi pada Anda, rekan, saudara, dan orang-orang terdekat lainnya.
Status Uang THR
Dua pekan menjelang lebaran biasanya perusahaan sudah membagikanTHR. Jika tidak dikelola dengan baik, THR biaa menguap untuk keperluan yang tidak begitu penting. Jangankan memikirkan untuk menabung dari dana THR, membuat hari-hari usai lebaran tidak nombok saja jadi sulit. Lalu bagaimana mengelola dana THR agar pengeluaran ketika puasa dan lebaran tidak terlalu membengkak? Apa bisa dana THR digunakan untuk investasi?
Asal muasal uang ini merupakan tambahan pendapatan yang diperoleh di luar gaji atau pendapatan rutin untuk budget bulanan. Seyogyanya, jika dengan gaji bulanan saja kebutuhan pengeluaran bisa teratasi maka dengan tambahan THR tentunya ada kelebihan dana yang bisa disimpan. Namun ada juga yang memberikan THR sebagai gaji ke-13, artinya pendapatan total tahunan 13x dibagi menjadi 12 bulanan atau budget tahunan.
Agar dapat dikembalikan sesuai statusnya (bukan gaji ke-13) dan dapat direncanakan dengan baik, untuk menghindari berbagai godaan untuk langsung berbelanja termasuk membeli hal-hal yang tidak diperlukan, sebaiknya uang THR dipindahkan ke rekening yang tidak ber-ATM agar dapat dikelola secara produktif. Jika Anda sudah memiliki rekening ketiga (2 rekening lainnya contoh bagi yang sudah berkeluarga; 1 rekening konsumsi dipegang istri dan 1 rekening modal kerja dipegang suami), selain rekening cashflow (arus kas harian) dengan ATM-nya, bisa juga rekening ini disatukan. Asal semua pos tersebut tercatat dengan baik, misalnya rekening ketiga untuk simpanan pembayaran jatuh tempo/ kebutuhan tahunan, investasi, simpanan dana darurat, dll. Terlalu banyak rekening juga akan memakan biaya administrasi.
Metode LSF Check Up!
Dalam metode “Cara Islam Merencanakan Keuangan” dengan cara Life Style Financial (LSF) Chek Up! Sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam QS Al Furqan ayat 67, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah-tengah antara yang demikian.”
Secara sunnah, THR dapat juga dikelola dengan metode tiga sepertiga. Agar kita bisa menyikapi hadiah ini dengan baik, ada tips sesuai Kitab Imam Muslim; Zuhud & Kelembutan Hati, Bab Sedekah terhadap orang-orang miskin, hadits No.2984, yang dimasukan sebagai hadits ke 19 dalam kitab Riyadushalihin Bab 60 tentang Kedermawanan oleh Imam Nawawi. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW menceritakan seorang petani yang diberkahi usaha dan hartanya, dan beliau bersabda; “……., maka sesungguhnya aku memperhitungkan hasil yang didapat dari kebun ini, lalu aku (1) bersedekah dengan 1/3 (sepertiganya), dan aku (2) makan beserta keluargaku (biaya konsumsi) 1/3 (sepertiganya) lagi, kemudian aku (3) kembalikan (untuk menanam lagi) 1/3 (sepertiganya).
Memperhatikan hadits tersebut, kita dapat menarik benang merah, bahwa THR bagi seorang muslim akan menjadi 3 kebaikan apabila didistribusikan;
(1) 1/3 untuk disedekahkan. Termasuk didalamnya membayar zakat, membebaskan utang piutang, dll. Sehingga pos sedekah dari budget pendapatan bulanan/ tahunan terbantu.
(2) 1/3 untuk dimakan (konsumsi sehari-hari). Pos ini bisa berarti luas juga, sebut saja keperluan mudik dan keperluan keluarga/ pribadi serta keperluan konsumsi lainnya.
(3) 1/3 untuk modal kerja (dikembalikan untuk mendapat penghasilan kembali).
Menginvestasikan rekening THR memang cukup kontroversial bagi sebagian besar pemegang uang, namun jika kita berfikir bijak tentu saja upaya ini akan dilakukan. Rekening THR bukan saja sebagai rekening musiman yang hanya ada setiap lebaran, akan tetapi menjadi sumber pendapatan baru untuk kemaslahatan keuangan jangka panjang. Artinya, jika tahun-tahun ke depan Anda ingin merencanakan liburan dimusim mudik, tidak hanya pulang kampung, rekening ini siap membantu.
Tanpa disadari sebenarnya beberapa pos dari ketiga pos tersebut sudah dijalankan, namun agar lebih “nyunah”, tentunya selain membantu mengatur keuangan juga berpahala karena mengamalkannya, sebaiknya langkah tersebut dilakukan dengan konsisten. Contoh, jika selama ini sudah biasa menyedekahkan THR, ingatlah jangan lebih dari 1/3, begitupun untuk konsumsi yang biasanya mencapai 2/3-nya.
Ketiga pos tersebut sebenarnya bisa semakin besar dari tahun ke tahun jika diinvestasikan, contoh; jika sekarang dapat THR 1,2 juta kemudian di investasikan 400 ribu, maka tahun depan sudah dipastikan THR Anda tidak lagi 1,2 juta. Jika perusahaan memberikan sama perispun ditahun berikutnya, setidaknya rekening THR Anda menjadi 1,6 juta. Otomatis porsi konsumsi yang bisa dinikmati semakin besar, tidak lagi sama dengan tahun sebelumnya.
Dalam perencanaan keuangan khusus budgeting (penganggaran/ cashflow); naik atau tidaknya pendapatan bukan menjadi masalah utama. Yang penting membangun kebiasaan positif untuk merubah pola pengeluaran yang biasanya pendapatan-konsumsi = sisa (investasi) – sedekah, menjadi pendapatan – investasi – sedekah = sisa (konsumsi). (Agus Rijal, S.E., Perencana Keuangan Syariah Independen)***
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=153457

Bagaimana Islam Mengatur Uang (Bagian 1 dari 3 tulisan)
Sebelum membahas pengaturan keuangan secara rinci, sebaiknya dipahami dulu awal harta (uang) itu didapat. Karena uang ditangan seorang muslim, bukan saja dituntut pertanggungjawabannya cara membelanjakan, namun juga dimulai dari cara mendapatkan. Para ulama sepakat mengkategorikan mencari harta kekayaan (uang) dalam 5 hukum taklif, yaitu; wajib, mustahabb (sunah), mubah, makruh, dan haram.
Bekerja bagi seorang muslim akan menjadi wajib ketika ia memiliki tanggungan minimal untuk dirinya sendiri (nafkah), terlebih jika memiliki keluarga seperti disebutkan dalam Alquran Surat (QS) Albaqarah ayat 233, dan mencari uang juga menjadi wajib ketika memiliki kewajiban terhadap hak orang lain (utang piutang, ikut serta membayar denda/ diat, atau membayar ganti rugi lainnya).
Ukuran nafkah (dirinya dan keluarga inti) lebih disandarkan pada kebutuhan untuk menopang hidupnya saja, karena akan berubah menjadi sunah ketika telah mencapai standar kecukupan, namun berniat menolong fakir miskin, anak yatim, janda-janda miskin, atau nafkah untuk menanggung kerabat-kerabatnya yang sebetulnya bukan tanggungan dirinya, dengan harapan dapat memelihara silaturahmi.
Pendapat ulama Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani (bersandar pada QS Albaqarah ayat 215) menyatakan bahwa selain kedua orangtua dari keluarga (bagi yang sudah menikah) dan kerabat yang merupakan mahram, bukanlah kewajiban seseorang untuk menafkahi mereka.
Hukum mencari harta kekayaan berubah menjadi mubah bila sudah memenuhi kebutuhan pokok, akan tetapi masih ingin mencari yang lebih untuk kesenangan dan kenyamanan dirinya beserta yang ditanggunya dalam hal kelezatan makanan, minuman, tempat tinggal, dan perkara-perkara mubah lainnya.
Baru berubah menjadi makruh bila usaha mencarinya tersebut menyebabkan seseorang meninggalkan ibadah-ibadah sunah, terjerumusnya dalam perkara-perkara makruh. Bahkan menjadi haram bila cara mencapai/ mendapatkannya haram, atau menyebabkan lalai atas kewajiban-kewajiban sebagai seorang muslim (shalat, shaum wajib, zakat, haji, dll), atau hasil yang digunakan untuk yang haram.
Ahli tafsir terkemuka, Ibnu Katsir, berkata,”Mencari uang (harta) bisa jadi terpuji bila ditunaikan karena suatu kewajiban, sunah, atau mubah. Namun, bisa juga menjadi tercela dilakukan (makruh dan haram).”
Untuk itulah, agar bekerja dapat bernilai ibadah, bekerja harus sesuai dengan syariat (1) Alquran (firman Allah), (2) As Sunah/ Al Hadits (Rasul-Nya), (3) Ijtihad/ fatwa/ pendapat salafushalih (orang-orang mukmin). Hal ini senada dengan firman Allah dalam Alquran surat At Taubah ayat 105,”Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah (1) dan Rasul-Nya (2) serta orang-orang mukmin (3) akan melihat pekerjaanmu itu,
Untuk itu, Rasulullah SAW memberikan kiat praktis mengatur keuangan agar bernilai ibadah (nyunah). Dari Abu Abdillah (ada yang mengatakan namanya itu ialah Abu Abdirrahman) yaitu Tsauban bin Bujdud, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Seutama-utama dinar yang dinafkahkan oleh seseorang lelaki ialah dinar yang dinafkahkan kepada keluarganya (1), dan juga dinar yang dinafkahkan kepada kendaraannya untuk berjuang fi-sabilillah (2) dan pula yang dinafkahkan kepada sahabat-sahabatnya untuk berjuang fisabilillah juga (3)” (Hadits Riwayat Muslim)
(1) Untuk konsumsi
(2) Untuk modal kerja
(3) Untuk charity/ sedekah (kepentingan umum fisabilillaah)
Hadits tersebut sejalan dengan Sahih Muslim No 2984, yang dimasukan sebagai hadits ke 19 dalam kitab Riyadushalihin Bab 60 tentang Kedermawanan oleh Imam Nawawi. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW menceritakan seorang petani yang diberkahi usaha dan hartanya, dan beliau bersabda; “……., maka sesungguhnya aku memperhitungkan hasil yang didapat dari kebun ini, lalu aku (1) bersedekah dengan 1/3 (sepertiganya), dan aku (2) makan beserta keluargaku (biaya konsumsi) 1/3 (sepertiganya) lagi, kemudian aku (3) kembalikan (untuk menanam lagi) 1/3 (sepertiganya).
Memperhatikan hadits tersebut, kita dapat menarik benang merah, bahwa penghasilan seorang muslim akan menjadi 3 kebaikan apabila didistribusikan;
(3) 1/3 untuk modal kerja (dikembalikan untuk mendapat penghasilan kembali)
(2) 1/3 untuk dimakan (konsumsi sehari-hari, nafkah secukupnya)
(1) 1/3 untuk disedekahkan.
Apa yang dimaksud sedekah? Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Bersedekahlah.” Lalu seorang laki-laki berkata: Wahai Rasulullah, aku mempunyai satu dinar? Beliau bersabda: “Bersedekahlah pada dirimu sendiri.” Orang itu berkata: Aku mempunyai yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan untuk anakmu.” Orang itu berkata: Aku masih mempunyai yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan untuk istrimu.” Orang itu berkata: Aku masih punya yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan untuk pembantumu.” Orang itu berkata lagi: Aku masih mempunyai yang lain. Beliau bersabda: “Kamu lebih mengetahui penggunaannya.” Riwayat Abu Dawud dan Nasa’i dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Hakim.
Jika dibagi rata setiap pendapatan kita pada pos-posnya, Insya Allah hak dan kewajiban semua pihak akan tertunaikan. Artinya, pendapatan yang dihasilkan tidak sepenuhnya untuk dikonsumsi, untuk itulah diperlukan pemahaman yang baik tentang perencanaan keuangan, agar pemanfaatannya optimal dan mendapat keberkahan serta bernilai ibadah. (Agus Rijal, S.E., Islamic Financial Planner Independen, ArRIJAL & Partner’S –Financial & Marketing Consultant Syariah)
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=147151

Distribusi Pendapatan Sesuai 3 Pos Kuangan (Bagian 2 dari 3 tulisan)
Dalam tulisan pertama telah dibahas dasar-dasar keuangan berdasarkan syariat Islam, lalu bagaimana diimplementasikan dalam perencanaan keuangan sehari-hari agar praktis dapat digunakan. Untuk bisa diterapkan, sebaiknya dipahami dahulu apa itu perencanaan keuangan dan manajemen keuangan.
Manajemen biasa diartikan sebagai upaya mengolah sumberdaya yang ada (memenej potensi) dgn proses Plan (merencanakan; Langkah 1) – Do (melakukan; Langkah 2) – Check (mengevaluasi; Langkah 3), untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Perencanaan dianggap mewakili keseluruhan proses manajemen, maka perencanaan keuangan pribadi/ keluarga sering digunakan sebagai istilah manajemen keuangan tersebut.
Langkah 1 (Plan)
Lakukanlah penganggaran dengan membagi pendapatan rata-rata bulanan (jika ada pengeluaran tahunan dikonvesrikan dulu dalam bulanan), kedalam 3 kelompok besar pengeluaran, yaitu; 1. Modal Kerja 2. Konsumsi 3. Charity (sedekah)
Alokasi inilah yang akan dijadikan dasar penganggaran (budgeting) atau perencanaan. Angka nominal yang muncul sebagai patokan untuk melakukan langkah berikutnya (action/ maksimal yang bisa dibelanjakan). Berikut contoh alokasi keuangan berdasarkan 3 pos besar tersebut;


Contoh anggaran Modal kerja dari pendapatan 2,5 Juta

Kesehatan keuangan dalam penganggaran ini juga sering digunakan oleh lembaga keuangan (bank) dalam mengucurkan kreditnya, misalnya KPR. Rasio 30% (cicilan per bulan 750 ribu dibagi 2,5 juta), adalah sisa penghasilan yang menjadi angka mutlak dimiliki seorang debitur selain persyaratan lainnya. Tak heran bila kemudian bank mengajukan persyaratan menambah uang muka (DP) atau memperpanjang waktu angsuran.
Akan tetapi, dalam perencanaan keuangan yang sehat, porsi 30% tersebut sebaiknya tidak habis untuk cicilan KPR. Bukankah masih ada kewajiban/ cicilan lainnya. Bahkan lebih bijak lagi total cicilan ini hanya 20% (KPR & cicilan lainnya), sehingga masih ada 10% yang bisa dijadikan investasi untuk menambah pendapatan tahunan Anda. Karena cicilan jika pada instrumen investasi yang produktif, walaupun nilainya bertambah dikemudian hari, namun masih bersifat pasif (tidak menambah langsung pendapatan Anda secara berkala). Sementara 10% modal kerja sisa diharapkan dapat menjadi modal kerja aktif, selain 10% lainnya sebagai modal kerja operasional sehari-hari.
Pada pos modal kerja yang harus diwaspadai adalah barang-barang konsumsi yang seharusnya dibayar tunai. Misalnya kredit kendaraan yang nilai belinya jauh lebih tinggi daripada nilai jual setelah barang itu didapat/ dipakai. Untuk membedakan nilai konsumtif atau produktif suatu barang dari nilai jual dan belinya. Selain itu juga nilai tambah dari barang tersebut, apakah menghasilkan uang kembali atau tidak. Bila perlu diperhitungkan prosentase selisih keuntungan & kerugiannya. Contoh, membeli kendaraan dengan dicicil 60% lebih mahal, namun pendapatan tidak naik >60% walaupun ada kendaraan tersebut. (Agus Rijal, S.E., Islamic Financial Planner Independen, ArRIJAL & Partner’S –Financial & Marketing Consultant Syariah)
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=148928

Bijaklah dalam Berbelanja Bagian 3 dari 3 tulisan (Habis)
Langkah 2 (Do/ Action)
Masalah utama dalam perencanaan keuangan adalah pada tahap pelaksanaannya. Sering kegagalan terjadi karena tarik ulur antara keinginan dan kebutuhan, serta realita pendapatan yang dimiliki. Masalah ini lebih banyak ditimbulkan oleh kurangnya pengetahuan dan informasi yang menunjang perencanaan keuangan. Misalnya dalam berbelanja. Untuk itu perlu dilakukan latihan dan cerdas finansial, agar rencana yang sudah ditetapkan dapat terlaksana dengan baik. Misalnya dalam berbelanja, selain memperhatikan diskon, juga pajak dan kualitas dari barang tersebut. Barang yang dibeli di supermarket (pasar moderen), tentu berbeda dengan di pasar/ warung (pasar tradisional) yang tidak memungut PPN (Pajak Pertambahan Nilai).
Prof. Sadono Sukirno, pakar ekonomi asal Negeri Jiran, suatu ketika pernah mengatakan, “Orang Indonesia itu tidak tahu bagaimana menggunakan uangnya. Sebagai contoh kecil, seorang mahasiswa yang uang sakunya masih bergantung pada orangtua menggunakan telepon seluler dengan model terbaru, padahal masih banyak alternatif telepon seluler yang memiliki fungsi sama dan lebih murah. Jika telepon seluler hanya digunakan untuk SMS dan telepon, Secara fungsi barangkali nyaris tidak ada bedanya antara telepon seluler berharga 400 ribu dengan 2 juta rupiah, bukan?”
Masalah utama sebenarnya bukan dari selisih harga yang begitu besar, tetapi keputusan membeli yang akan erat kaitannya dengan pembentukan gaya hidup seseorang sebagai perilaku pascapembelian. Padahal, setiap merek suatu produk akan mencerminkan penghasilan seseorang. Jika salah beli, bukan saja mengganggu kesehatan keuangan, tetapi lebih jauh membentuk gaya hidup yang tidak sesuai dengan pengeluaran rumah tangga yang seharusnya.

*Dana darurat, minimum 3-6 kali lipat dari pendapatan. Dana ini selain berfungsi sebagai cadangan pribadi, juga bisa dimanfaatkan untuk sedekah, termasuk memberikan pinjaman.
Langkah 3 (Check)
Mengevaluasi merupakan langkah terpenting untuk melakukan rencana berikutnya dan melakukan perubahan dalam mengatur pendapatan yang sudah dihasilkan atau merencanakan meningkatkan penghasilan.
Bagaimana jika pendapatan yang dihasilkan kurang mencukupi? Anda bisa menghitung sendiri dasar kebutuhan untuk dijadikan pendapatan ideal yang harus dicapai. Caranya? Bagi pengeluaran terbesar di 3 pos tersebut dengan prosentase yang sudah dibahas dalam pengaturan pendapatan, contoh kenyataan biaya modal kerja ideal Anda tidak 1 juta tapi 1,5 juta (karena sudah terlanjur banyak cicilan), maka 1,5 juta tinggal dibagi 40% (0,4), maka akan muncul pendapatan 3,75 Juta.
Artinya pendapatan Anda harus ditingkatkan 1,25 Juta dengan cara menambah beban kerja dengan modal kerja yang ada (lembur/ kerja sampingan), atau meningkatkan kinerja investasi yang sudah dialokasikan dari modal kerja agar menghasilkan kenaikan 1,25 juta. Bukan “mengorbankan” pos lainnya, dengan mengurangi budget (anggaranya). Untuk itulah mengapa 10% investasi dalam modal kerja yang dipaparkan pada tulisan 2 menjadi penting dianggarkan. (Agus Rijal, S.E., Islamic Financial Planner Independen, ArRIJAL & Partner’S –Financial & Marketing Consultant Syariah)
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=149929

Mengapa Perencanaan Keuangan Penting Bagi Muslim?
Mengelola Harta Secara Bijak
Islam tidak membenci harta, namun mewaspadai keburukan perilaku manusi terhadap harta, seperti firman Allah Ta’ala dalam surat Al Isra ayat 26, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” Diperkuat dengan surat Al Furqon ayat 67,”Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”
Penegasan ini mensiratkan bahwa seorang muslim harus pandai mengelola uang (harta). Dengan demikian secara tegas dapat dikatakan Islam sebagai penggerak perencanaan keuangan. Mengapa? Al Qur’an diturunkan 14 abad yang lalu, dan sudah menegaskan pentingnya merencanakan keuangan agar bisa membelanjakan ditengah-tengah antara keduanya (tidak berlebihan/ boros dan kikir).
Ketika menggagas sebuah gerakan yang bertajuk INSAFI “Indonesia Sadar Finansial Islami”, penulis tergugah untuk mengenang kembali gagasan penegakan ekonomi syariah. Jika merujuk pada Al Qur’an dan Al Hadits, jelas sekali bahwa pemahaman terhadap harta secara menyeluruh (rezeki) harus dimiliki oleh setiap muslim. Cita-cita gerakan INSAFI sebenarnya sejalan dengan ekonomi syariah.
Gerakan INSAFI ini mengharapkan dapat peningkatan pengetahuan, pemahaman, dan kecerdasan finansial di Indonesia, sebagai bentuk kepedulian sosial dalam menyejahterakan kehidupan keuangan seluruh masyarakat Indonesia. Gerakan ini mengajak seluruh Pemangku Kepentingan (Stakeholder), dalam hal ini jajaran Industri Keuangan, Regulator, Para Wakil Rakyat, Lembaga Pendidikan, Praktisi Jasa Keuangan, Media Massa, dan Lembaga Kemasyarakatan lainnya untuk bersama-sama bahumembahu mulai berpikir dan bertindak guna meningkatkan kecerdasan finansial rakyat Indonesia.
Bangsa Indonesia akan sejahtera apabila rakyatnya memahami masalah finansial dan mendapatkan solusinya dengan tepat, sehingga masalah-masalah sosial yang berakar dari masalah keuangan keluarga, seperti kriminalitas yang bersumber dari kemiskinan, perpecahan keluarga akibat masalah keuangan, maupun kemiskinan struktural yang diakibatkan oleh salahnya tata kelola keuangan dalam keluarga dapat teratasi.
Perencanaan keuangan sebagai bagian dari upaya mensosialisasikan ekonomi syariah ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi penegakan syariat. Menurut Safir Senduk dalam bukunya Merencanakan Keuangan Keluarga, beberapa alasan kenapa memerlukan Perencanaan Keuangan, yaitu; adanya tujuan keuangan yang ingin dicapai, tingginya biaya hidup dari waktu ke waktu, keadaan perekonomian Indonesia tidak selamanya baik (ada kalanya krisis), fisik manusia tidak selamanya akan selalu sehat, serta banyaknya produk keuangan yang ditawarkan.
Menurut Al Qur’an sendiri, setidaknya ada 4 alasan utama, mengapa perencanaan keuangan perlu dilakukan oleh seorang muslim, yaitu:
1.Harta Sebagai Cobaan (Ujian/ Fitnah).
Firman Allah Ta’ala dalam surat ke-8 (Al Anfal) ayat 28 dan At Taghaabun ayat 15. Surat Al Baqarah ayat 155 lebih menegaskan lagi, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits hasan dan sahih yang bersumber dari Ka’ab ibnul ‘Iyadh r.a, bahwa Rasulullah S.A.W. bersabda; “Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah. Dan fitnah umatku adalah harta.”
Kita bisa saja membiarkan aktivitas keuangan keluarga mengalir seperti air, tapi bagaimana bila tiba-tiba kehidupan keluarga “terjebak kemacetan” karena salah “pilih jalan”. Kemacetan di jalan mungkin masih bisa menunggu 1-2 jam, tapi bagaimana bila kemacetan keuangan. Apakah keluarga Anda bisa tahan? Bukankah akan menimbulkan stress berkepanjangan. Tentu saja agar bisa menghadapi ujian (kemacetan) dengan baik diperlukan kiat, perencanaan keuangan akan membantu menghadapinya. Bahkan tidak hanya kesempitan, kelapangan (kekayaan) agar dapat berkah dan menunaikan amanah sesuai syariat juga diperlukan perencanaan keuangan.
2. Harta Sebagai Amanah
Menunaikan hak-hak harta setelah didapat, seperti firman Allah dalam surat ke- 6 (Al An’aam) ayat 141 dan Al Isra ayat 26. Agar amanah dapat ditunaikan secara baik (sesuai hak-haknya), tentun diperlukan pengelolaan keuangan yang baik pula, sehingga keuangan dapat diatur sesuai dengan syariat Islam.
3. Harta Harus Dikelola Secara Seimbang (Mengoptimalkan Harta).
Agar menambah syukur nikmat, menghindari sifat buruk manusia dalam hal harta (kikir & boros), surat Al Isra ayat 26 dan surat Al Furqon ayat 67.
4. Harta Berperan Penting dalam Kehidupan/ Ibadah Seorang Muslim.
Banyak sekali kaitan harta dengan ibadah seorang muslim. Selain kewajiban berusaha & menafkahi keluarga seperti diperintahkan Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 233, harta juga berperan penting dalam kehidupan muslim lainnya selain zakat, infaq, shadaqah, berqurban, juga berhaji & umroh.
(Agus Rijal, S.E., Marketing & Financial Consultant Syariah –Islamic Financial Planner Independen, ArRIJAL & Partner’S)
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=146165

Gebyar Ramadhan; Keinginan versus Kebutuhan
Kenaikan TDL seakan terlupakan dengan memasuki bulan Ramadhan. Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) Juli 2010 lalu, yang berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok, tidak lagi menjadi topik yang menarik. Pasalnya tak lama kemudian disambut Ramadhan, dan umumnya harga-harga kebutuhan pokok juga meningkat hingga menjelang lebaran nanti.
Menurut teori ekonomi ada yang disebut multiplier effect atau efek domino/ efek gelombang. Kenaikan TDL akan membuat ongkos produksi naik. Kemudian, distributor yang membeli barang pada akhirnya juga menaikkan harga jual produk. Walaupun tarif pengguna dibawah 900VA tidak dinaikan, namun pada akhirnya akan terkena dampak juga. Pelaku industri makanan dan minuman yang sudah rutin dibutuhkan ibu rumah tangga menaikan harga, sementara pendapatan rumah tangga tidak mengalami kenaikan.
Pemicu kenaikan berbeda disaat menyambut Ramadhan, harga-harga komoditi rumah tangga naik alasannya supply (pasokan) dan demand (permintaan) yang tidak seimbang. Permintaan cenderung meningkat dan akhirnya membuat harga naik, karena supply dianggap terbatas. Padahal peristiwa permintaan di bulan Ramadhan ini rutin terjadi, artinya pengusaha tentunya sudah menyiapkan pasokan untuk antisipasi permintaan yang meningkat, sehingga harga seharusnya tidak berubah. Walaupun ada beberapa komoditi yang tidak bisa dinaikan jumlah pasokannya.
Bila memetik hikmah dari beragam peristiwa yang sudah dilalui terkait dengan keuangan keluarga, setidaknya masyarakat saat ini, yang berhasil melalui goncangan-goncangan ekonomi tersebut, memiliki keungulan tersendiri. Setidaknya upaya-upaya kreatif (cerdas finansial) akan muncul agar bisa lebih tahan krisis dan yang paling utama adalah kemandirian.

Imunitas Keuangan
Kemandirian sangat diperlukan sebagai modal dasar keberhasilan perencanaan keuangan. Pernahkah Anda melihat seseorang yang pekerjaannya kelihatan biasa-biasa saja, tetapi memiliki apa saja yang dia inginkan? Sementara impian Anda punya rumah mungil masih dalam khayalan. Begitu juga sebuah mobil yang sudah lama Anda dambakan masih jauh dari jangkauan. Bahkan boleh jadi pendapatan Anda sama, namun hasil (cara membelanjakannya) yang berbeda, sehingga secara fisik akan terlihat perbedaan aset yang dimiliki yang satu dengan yang lainnya. Itulah yang disebut kemandirian financial. Yang satu dapat fokus pada tujuan keuangannya (mandiri), sementara yang satunya lagi tidak terencana dengan baik.
Perencanaan keuangan sangat diperlukan oleh seseorang atau sebuah keluarga untuk memperbaiki atau mempertahankan gaya hidup, memperkecil terjadinya masalah keuangan, dapat berinvestasi secara optimal, serta mengakumulasikan kekayaan dalam suatu jangka waktu tertentu. Dalam pengelolaan keuangannya, ada dua sikap yang biasanya diambil seseorang, yaitu bersikap aktif atau pasif.
Ciri orang-orang yang bersikap pasif adalah seseorang yang baru bereaksi ketika kondisi keuangan di lingkungan sekitarnya mengalami perubahan yang signifikan dan berpengaruh pada keuangannya sendiri. Sementara, seseorang baru dianggap aktif apabila sebelum terjadi perubahan dia sudah melakukan perencanaan dengan segala pertimbangan agar tujuan-tujuan keuangannya dapat tercapai, seperti dana pendidikan, dana pensiun, asuransi, haji-umroh, dll (bersifat jangka panjang). Positifnya, dia tidak akan terlalu terpengaruh jika terjadi perubahan yang memengaruhi kondisi keuangannya, salahsatunya kenaikan TDL atau memasuki bulan Ramadhan.
Bagi yang aktif, gaya hidup akan mengikuti kondisi yang berkembang (menyesuaikan dengan anggaran/ biaya hidup) dengan tetap fokus pada tujuan keuangan. Dan yeng terpenting tetap mengoptimalkan modal kerja 40% dari pendapatan agar tetap produktif. Saat itulah dilema terjadi. Untuk itu, diperlukan kecerdasan finansial untuk dapat menyeimbangkan antara kebutuhan dan keinginan.

Keinginan versus Kebutuhan
Mulailah menyisihkan sedikit waktu Anda untuk bertanya pada diri sendiri, berdiskusi dengan pasangan dan anggota keluarga lainnya (anak misalnya). Anda mungkin akan menemukan bahwa ada cukup banyak barang yang dianggap perlu (kebutuhan). Sekali Anda dapat membedakan keduanya dengan obyektif dan dapat membatasi diri agar tidak membeli barang-barang yang hanya sekedar keinginan, maka Anda sudah dalam jalan sukses mempraktekan ‘hidup sesuai kemampuan’.
Standar kebutuhan dan keinginan bagi setiap orang bisa jadi berbeda. Tentunya sangat tergantung dari kondisi lingkungan, aktivitas harian, tuntutan pekerjaan/profesi, penghasilan dan lain sebagainya. Untuk sederhananya, kebutuhan dan keinginan itu suatu yang sangat berbeda, walaupun objek yang dijadikan pemuas adalah sama. Contoh sederhana Anda membutuhkan makan, namun dengan cara apa kepuasan itu dipenuhi?
Dalam mengelola uang saku untuk kebutuhan kerja misalnya (ingat! modal kerja dianggarkan 40% dari pendapatan, termasuk modal kerja aktif/ investasi 10%), kebutuhan kita sebenarnya dapat terpenuhi jika kita makan siang secukupnya, misalnya saja dengan memesan nasi rames yang harganya berkisar Rp. 10.000,- (ada biaya layanan memasak saja). Namun, ada yang lebih suka makan dikafe-kafe atau food court dengan biaya yang lebih mahal, anggap saja Rp. 50.000,- (ada biaya pajak & pelayanan). Selisih Rp. 40.000,- ini merupakan harga yang harus dibayar untuk memuaskan keinginan atau mungkin bagi sebagian orang menjadi gengsi/ lifestyle (gaya hidup).
Sebenarnya, akan lebih hemat lagi bila dikembalikan ke kondisi aslinya (kebutuhan), contohnya membawa bekal makanan dari rumah (karena tidak ada biaya layanan memasak & pajak tentunya). Tapi bukan berarti tidak boleh jajan diluar, sesekali tidak masalah jika tidak keluar dari budget/ anggaran yang sudah ditetapkan, atau sudah direncanakan sebelumnya dengan menyisihkan anggaran untuk dibelajakan dalam waktu tertentu.
Hal ini juga berlaku jika keluarga memasuki masa liburan pulang kampung (mudik). Dari manakah budget mudik? Sejatinya mudik bagian dari leisure (hiburan) yang seharusnya dapat mendongkrak kinerja, maka jika demikian porsi budget yang dikeluarkan dapat dari modal kerja yang ditabung selama 1 tahun (tujuan keuangan tahunan). (Agus Rijal, S.E., Perencana Keuangan Syariah Independen)***
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=152680

Dana Darurat Ajaran Orangtua Dulu (Bagian 1 dari 2 tulisan)
Pernah mendengar leuit (lumbung padi)? Dimanakah sekarang bisa ditemui? Apakah karena poduksi beras kita mulai menurun atau sudah tidak ada lagi budaya nutug pare (mengupas padi menggunakan lisung). Bukan masalah ini yang akan kita bahas, namun filosofi menyimpan aset (pertanian) orang tua dulu, yang kini sudah beralih instrumen dengan bentuk lain. Orangtua dulu selalu mengatakan, “Sedia payung sebelum hujan.” Nah, di dalam perencanaan keuangan keluarga payung yang dimaksud adalah Dana Darurat. Pengertian Dana Darurat ini bisa bervariasi dari satu rumah tangga ke rumah tangga lainnya. Ada yang berpendapat bahwa Dana Darurat diakumulasi untuk menutupi keperluan yang penting namun belum dianggarkan sebelumnya, misalnya menutupi kekurangan biaya kesehatan, pengeluaran keluarga mendesak, kelebihan biaya perbaikan mobil, rumah bocor, dan berbagai keperluan insidental lainnya, seperti keperluan menutupi kekurangan tujuan keuangan jika investasi tidak mencapai hasil maksimal, sebutsaja untuk menambah dana pendidikan, dana haji-umroh, dll, atau keperluan pemenuhan biaya hidup jika tidak bekerja/ tidak memiliki penghasilan untuk sementara waktu, karena mendapat musibah kehilangan sumber penghasilan baik sementara atau seterusnya.
Akan tetapi, karena tidak dipahami makna lumbung padi ini, maka kegiatan menyisakan sebagian aset untuk masa yang akan datang atas suatu resiko kadang diabaikan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Saat ini, budaya kredit sebagai dana talangan lebih menjadi pilihan sebagai alternatif dana.
Padahal, perubahan gaya hidup dan tingginya biaya hidup membuat kondisi keuangan keluarga mengalami tingkat ketidakpastian yang tinggi saat ini. Di perkotaan banyak perusahaan di masa krisis bangkrut dan pabrik ditutup, puluhan ribu pekerja produktif kehilangan pekerjaannya. Terlihat jelas bahwa tidak ada lagi keamanan finansial.
Dana darurat (emergency fund) adalah sejumlah simpanan uang yang dapat diakses secara mudah jika sewaktu-waktu Anda memerlukannya dalam keadaan darurat. Memiliki simpanan dana darurat sangat penting karena Anda tidak pernah tahu kapan akan menghadapi situasi genting yang membutuhkan biaya tunai.
Pada prinsipnya dana darurat ini sama seperti proteksi (asuransi) jika pencari nafkah kehilangan penghasilan selama beberapa waktu sampai keluarga tersebut bisa mendapatkan penghasilannya kembali. Dana darurat juga sama fungsinya dengan kartu kredit. Hanya dana darurat dibayar sekarang (sudah tunai karena dicicil/ disimpan sebelum dibutuhkan), sementara kartu kredit dibayar kemudian. Oleh karena itu, dalam menentukan besarnya dana darurat merujuk pada beberapa hal, antara lain status pernikahan, jumlah anak, besarnya pengeluaran per bulan dan pola pendapatan. Berikut perhitungannya:
Dana Darurat yang seharusnya anda punya asumi pengeluaran per Rp 1 Juta sebulan:
PILIHAN STATUS (Ideal) Jumlah Dana Darurat
Lajang / Belum Menikah 3-4 Kali Rp. 4.000.000,00
Pasangan tanpa anak 6 Kali Rp. 6.000.000,00
Memiliki 1 anak 6-9 Kali Rp. 9.000.000,00
Memiliki 2 anak atau lebih 12 Kali Rp. 12.000.000,00
Pensiunan (tanpa tunjangan) 12 Kali Rp. 12.000.000,00
Pekerja freelance (tidak tetap) 12 Kali Rp. 12.000.000,00

Sebagai gambaran, untuk seseorang dengan status single dan bekerja sebagai pegawai (aliran pendapatan lebih pasti; sebut saja PNS), dana darurat minimum 3 kali pengeluaran rutin perbulan. Umumnya ketika terjadi resiko, situasi keuangan sedikit tergoncang baik karena kebutuhan pengeluarannya, maupun situasi fisik & psikis untuk bekerja. Maka, jika pekerja adalah freelancer/ usaha mandiri (profesional) atau wirausaha, akan lebih baik jika bisa membentuk dana darurat sebesar 12 kali pengeluaran rutin per bulannya (1 tahun). Hubungan yang sama berlaku untuk jumlah anak, semakin banyak jumlah anak maka dana darurat harus semakin besar, sesuai dengan resiko keuangan yang mungkin timbul, termasuk pekerja usia diatas 40 tahun atau yang mendekati usia pensiun dan sudah pensiun tanpa tunjangan rutin.
Jika melihat besaran yang harus disisihkan untuk dana darurat, beberapa orang akan menganggap bahwa pembentukan dana darurat akan menghalangi pemenuhan tujuan keuangan atau kebutuhan lainnya. Pandangan ini tidak sepenuhnya benar, karena sesungguhnya Anda hanya dituntut untuk cerdas dalam mengendalikan pendapatan maupun pengeluaran.
Jadi, sekarang masalahnya bukan pada datangnya hujan yang semakin tidak bisa diprediksi namun pada motivasi kita untuk menciptakan proteksi bagi orang-orang yang kita sayangi. Yuk kita buat Dana Darurat sekarang! (Agus Rijal, S.E., Marketing & Financial Consultant Syariah –Islamic Financial Planner Independen, ArRIJAL & Partner’S)
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=140596

5 Langkah Menyiapkan Dana Darurat Bagian 2 dari 2 tulisan (Habis)
Belajar perencanaan keuangan harus menyenangkan. Mengapa? Hanya dengan pikiran jernih, produktifitas (kecerdasan finansial) akan terjaga. Jika belajar perencanaan keuangan membuat Anda stres, karena makin terbuka kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpikir sebelumnya, mungkin ada yang salah dalam cara berpikir tentang membangun paradigma manajemen keuangan Anda. Hal ini berlaku juga dalam menyiapkan dana darurat.
Sebelum terbentuk dana darurat sesuai jumlah yang disarankan, alangkah baiknya jika dapat berada pada situasi debt-free dahulu (bebas cicilan), atau keputusan untuk mengambil cicilan mempertimbangkan berapa banyak dana darurat yang sudah dimiliki. Namun jika sudah terlanjur, jika cicilan tidak bisa diperkecil, keinginan memiliki dana darurat tetap diupayakan dengan menambah pos pengeluaran.
Berikut ini adalah langkah mudah yang dapat Anda terapkan untuk memulai simpanan dana darurat:
1. Untuk menentukan berapa besar dana darurat yang harus disisihkan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghitung jumlah pengeluaran Anda setiap bulan. Untuk mengetahui pengeluaran rata-rata perbulan, coba lihat semua tagihan Anda selama tiga bulan belakangan, termasuk: cicilan rumah, tagihan TV kabel, internet, telepon rumah, telepon selular, asuransi, pengeluaran untuk kendaraan, termasuk cicilan, biaya servis dan bahan bakar, serta pajak properti (PBB), perpanjangan STNK, dll.
Dana darurat minimal, 3-6 kali tagihan-tagihan tersebut ditambah dengan biaya konsumsi (dapur), dan lebih baik lagi jika dihitung bukan berdasarkan kewajiban (pengeluaran) tapi pendapatan.
2. Siapkan rekening darurat tersebut. Ada tiga pilihan terbaik untuk menyimpan dana darurat Anda, yaitu dengan menyimpannya dalam bentuk rekening tabungan tanpa ATM atau deposito, emas batangan, serta reksadana. Sekali lagi, rekening ini bukan portofolio investasi yang sudah ada dengan tujuan keuangan masing-masing.
3. Mulailah dengan menyisihkan dana darurat sedikit demi sedikit dari pendapatan Anda setiap bulannya. Tak usah pedulikan besar kecilnya, sesuaikan saja dengan kemampuan. Lambat laun Anda akan termotivasi untuk meningkatkan jumlah yang ditabung. Simpan setiap uang receh yang Anda terima. Di akhir bulan, Anda akan terkejut melihat jumlah uang yang berhasil ditabung. Jika Anda mendapatkan “Uang Kaget”, bonus, tunjangan hari raya (THR), dan lain sebagainya, jangan habiskan uang tersebut. Lebih baik masukkan segera ke rekening dana darurat.
4. Perlakukan dana darurat sebagai salah satu tagihan yang harus dibayar setiap bulannya. Setiap kali menerima gaji, sisihkan dulu untuk ditabung sebagai dana darurat lalu baru membayar berbagai tagihan dan kebutuhan lain. Untuk itu, alangkah bijaknya jika mengurangi pengeluaran Anda setiap bulannya. Evaluasi kembali anggaran untuk hal-hal yang tidak krusial seperti membeli majalah, berburu gadget terbaru, atau sekadar nongkrong di kafe, lebih baik pangkas pengeluaran itu dan tabung saja uangnya untuk dana darurat.
5. Batasi akses terhadap rekening dana darurat agar Anda tidak tergoda menggunakannya. Evaluasi jumlah pengeluaran dan pendapatan Anda setiap satu tahun sekali, dan buat revisi anggaran dana darurat sesuai dengan biaya hidup saat itu. Dana darurat berbeda dengan dana investasi lainnya atau dana cadangan (safety cash), untuk itu bedakan pos keuangan ini dengan pos keuangan pada umumnya.
Bentuk Dana Darurat Tunai
Cash/Tabungan/ Cek/ Giro dan Investasi Emas atau Reksadana; Produk perbankan merupakan tempat yang tepat untuk menyimpan dana jangka pendek. Akan tetapi, jika dana darurat ini disimpan untuk jangka panjang, sebaiknya mempertimbangkan untuk memindahkan sebagian dana darurat ke instrumen yang lain agar tidak termakan inflasi. 50% disimpan dalam bentuk emas batangan lebih baik.
Investasi dana darurat harus pada resiko yang terukur, namun untuk jangka panjang (lebih dari 3-5 tahun), sebagian dana darurat dapat disimpan pada tingkat resiko yang moderat atau bahkan agresif jika jangka panjang (>10 tahun), namun tidak lebih dari 60% dan dipindahkan disaat nilai investasi berfluktuasi serta diperlakukan sebagai aset investasi.
Bentuk Dana Darurat Tidak Tunai
Kartu Kredit dan Asuransi; Penggunaan kartu kredit sebaiknya hanya diperlukan apabila kartu itu dilihat sebagai sumber kredit. Artinya saat melakukan transaksi telah diperhitungkan akan dana pengganti dikemudian hari, tanpa mengganggu pengeluaran yang sudah ada. Jika sudah memiliki dana darurat dimuka, minimal 2-3 kali, sebaiknya kartu kredit dihapuskan dalam catatan keuangan Anda.
Penggunaan asuransi terbatas untuk resiko-resiko yang dipersyaratkan, maka untuk resiko diluar tanggungan asuransi, tetap akan menjadi tanggungan dana darurat yang kita kelola sendiri. (Agus Rijal, S.E., Marketing & Financial Consultant Syariah –Islamic Financial Planner Independen, ArRIJAL & Partner’S)
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=141469

Bagaimana Sistem Asuransi Bekerja (Bagian 1 dari 3 tulisan)
Pernahkah Anda melayat keluarga orang yang meninggal? Atau menjenguk orang yang sakit? Selain doa dan motivasi, kebiasaan masyarakat kita juga memberikan bingkisan ala kadarnya, termasuk dalam bentuk uang. Topik kali ini akan membahas masalah budaya tolong-menolong dalam bentuk hibah tabarru yang sering kita kenal dengan asuransi. Mengapa? Hal ini karena umumnya sumbangan “ala adarnya” itu tidak mungkin menutup kebutuhan keuangan secara keseluruhan di saat kejadian secara tiba-tiba menimpa, nyaris tanpa persiapan. Untuk itulah, diperlukan instrumen keuangan lainnya.
Asuransi syariah merupakan usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang (anggota dalam kumpulan). Dikutip dari Wahbah al-Zuhaili al-Mu`amalat al-Maliyah al-Mu`ashirah (dimasyq: daral-fikr, 2002) halaman 287: “sejumlah dana (premi/ biaya asuransi) yang diberikan oleh peserta asuransi sebagai tabarru (amal kebajikan) dari peserta kepada (melalui) perusahaan yang digunakan untuk membantu peserta yang memerlukan, berdasarkan ketentuan yang telah disepakati; dan perusahaan memberikannya (kepada peserta) sebagai tabarru atau hibah murni tanpa imbalan”.
Dalam akad tabarru, peserta memberikan dana hibah yang akan digunakan untuk menolong peserta lain yang tertimpa musibah. Peserta secara individu merupakan pihak yang berhak menerima dana tabarru (mu`amman/ mutabarra` lahu, dan secara kolektif selaku penanggung (mu`ammin/ mutabarri) perusahaan asuransi bertindak sebagai pengelola dana hibah.
Bagaimana pengelola dana menghitung tabarru (premi asuransi) yang dibebankan? Dapat dilihat dalam tabel morbiditas (statistika sakit) atau mortalitas (statistika meninggal) sebagai berikut:
Misalnya usia 10 tahun, dari tabel menunjukkan 98.509 dari 100.000 anak sehat dan 119 sakit. Bila masing-masing mengajukan pertanggungan 50 juta (maksimum per tahun), maka diperlukan dana 5,95 miliar (50 juta dikali 119 orang). Jadi premi (iuran tabarru yang dilakukan per peserta Rp 60.400 per orang (5,95 miliar dibagi 98.509 orang). Nah dari data inilah kemudian perusahaan sebagai manajer risiko (pengelola dana tabarru) mengeluarkan kebijakan premi. Ketentuan teknisnya akan disesuaikan dengan kebijakan masing-masing perusahaan.
Jika ada pertanyaan bagaimana sistem yang ditawarkan asuransi konvensional saat ini, apakah telah sesuai dengan syariah? Apa bedanya dengan model asuransi syariah? Seharusnya semua perusahaan asuransi adalah takafulli.
Nah, dari data inilah kemudian perusahaan sebagai manajer risiko (pengelola dana tabarru) mengeluarkan kebijakan premi. Tentunya premi yang dijual itu harus mencapai target dengan tingkat risiko terukur (jumlah sakit mengikuti tabel perkiraan).
Bagaimana jika melenceng? Sebagai manajer risiko akan terus melakukan evaluasi biaya tabarru yang dibebankan pada nasabah (diubah), bisa lebih kecil atau lebih besar. Untuk itu juga perusahaan harus menanggung beban sementara jika terjadi kesalahan atau di luar angka perhitungan tadi.
Keuntungan perusahaan dari mana? Asuransi sama dengan lembaga Ziswaf dan lembaga kredit (Al Qard Al Hasan), maka dapat menggunakan beban biaya administrasi (wakalah atau ijarah untuk pengelolaan rekening, dengan biaya yang wajar), juga bisa mengambil sebagian dari dana tabarru yang terkumpul. Dengan perhitungan yang cermat, maka seharusnya perusahaan tidak membagikan keseluruhan dana sisa, apabila jumlah klaim ternyata di luar dugaan lebih sedikit.
Berdasarkan skema akad, terlihat jelas bahwa ada dua perbedaan besar, yaitu tijarah (bisnis) dan tabarru (tolong-menolong). Karena asuransi dikategorikan tolong-menolong dalam bentuk hibah, maka peserta yang bergabung harus meniatkan diri sebagai penyumbang. Intinya, ketika peserta yang sehat/ hidup memberikan santunan dari hibah bersama kepada seseorang (keluarga) yang terkena musibah, maka diharapkan dari kumpulan tersebut juga dapat memberikan sejumlah dana yang dikehendaki ketika penyumbang (tertanggung) terkena musibah.
Asuransi bukanlah produk keuangan yang berunsur gambling (judi atau untung-untungan). Jika selama menjadi peserta kumpulan ini tidak mengalami risiko, ya alhamdulillah! Insya Allah niat sebagai penyumbang akan menjadi infak yang dinilai ibadah. Makanya, asuransi bagian dari infak/sedekah kita (hibah) yang alokasinya maksimum 1/3 dari 1/3 pendapatan atau 1/9 dari pendapatan kita, kalau Rp 1.000.000 ya kurang lebih Rp 100.000. Lumayan bisa tolong-menolong, jika sakit bisa mendapat tanggungan 50 juta, dan jika tidak sakit menolong yang lainnya. (Agus Rijal, S.E., konsultan marketing dan finansial syariah, islamic financial planner independen)***
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=142229

Perencanaan Pertanggungan Asuransi (Bagian 2 dari 3 tulisan)
Dewasa ini, ada empat cara pengelolaan risiko yang digunakan untuk mengendalikan risiko finansial:
1. Avoiding risk (menghindari risiko). Contoh: untuk menghindari risiko sakit dengan menjaga stamina tubuh , dll.
2. Controlling risk (mengendalikan risiko). Contoh: untuk mengurangi risiko kecelakaan saat berkendaraan, dengan memastikan safety procedure berkendaraan.
3. Accepting risk (menerima risiko). Contoh: seseorang tidak mengasuransikan rumahnya terhadap risiko kebakaran, dan akan bersedia menanggung kerugian jika terjadi risiko kebakaran.
4. Transferring risk (mengalihkan risiko). Contoh: mengalihkan risiko finansial ke pihak lain, yaitu membeli pertanggungan asuransi. Risiko kerugian finansial tersebut dialihkan ke perusahaan asuransi atau sekumpulan peserta yang saling tolong-menolong untuk memberikan sejumlah uang pertanggungan sesuai dengan yang disepakati.
Ada tiga risiko yang berdampak secara keuangan bila: 1.Meninggal dunia terlalu dini (di usia produktif) 2. Meninggal dunia terlalu lama (risiko keuangan dimasa tidak produktif) 3. Cacat/ tidak produktif baik sementara maupun tetap.
Pertanggungan ini berbeda dengan dana darurat. Mengapa? Jumlah yang dialokasikan jauh lebih besar dan cenderung permanen untuk melindungi risiko jangka menengah panjang, sementara dana darurat lebih mengatasi risiko jangka pendek (kurang dari satu tahun).
Lantas bagaimana mengatasi risiko keuangan tersebut? Diperlukan proteksi keuangan (income protection)?
Untuk mengetahui berapa UP (uang pertanggungan), asuransi cukup dibagi dengan perkiraan keuntungan investasi per bulan/tahun (misalnya satu persen per bulan pada instrumen yang moderat), maka uang pertanggungan risiko yang harus ada (sebagai dana abadi) adalah 200 juta-250 juta rupiah. Artinya, bila memiliki uang 200 juta-250 juta rupiah di saat risiko terjadi, kemudian diinvestasikan dengan keuntungan satu persen per bulan, maka akan mendapatkan 2 juta-2,5 juta rupiah per bulan (200 juta-250 juta rupiah dikali satu persen). Walaupun “mesin uang” Anda tidak produktif lagi, baik sementara maupun tetap karena sakit kritis/cacat total tetap/meninggal dunia, Anda ataupun keluarga tidak bergantung/menjadi beban finansial orang lain.
Yang menjadi pertanyaan, dari mana uang 200 juta-250 juta rupiah bisa didapat. Jika menabung harus berapa lama? Misalnya, coba bagikan 200 juta-250 juta rupiah dengan menabung/investasi Rp 500.000 per bulan. Maka diperlukan waktu 500 bulan atau 21 tahun. Sanggupkah Anda menjalaninya?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, apakah ada jaminan risiko kehidupan tidak akan tiba sebelum dana pertanggungan risiko terkumpul penuh?
Begitupun jika Anda punya uang/investasi yang cukup besar saat ini, coba bertanya, apakah uang/investasi tersebut tidak akan pernah terpakai untuk apa pun (termasuk biaya berobat, membayar utang, dll.) selama periode produktif tersebut? Untuk itulah asuransi diperlukan untuk mengatasi risiko keuangan keluarga. Sistem asuransi memberikan jaminan keuangan, di saat risiko terjadi, walaupun uang yang disisihkan belum mencapai jumlah uang pertanggungan yang diharapkan, karena sistem asuransi tolong-menolong secara berkelompok.
Menghitung UP, bisa juga berdasarkan masa waktu tertentu, misalnya perlindungan diperlukan hanya untuk lima tahun, karena setelah itu keluarga bisa bangkit kembali. Cara menghitungnya: biaya yang di-cover dikali 5 tahun atau 60 bulan. Jadi UP bisa berubah menjadi 120 juta-150 juta rupiah (60 x 2 juta-2,5 juta rupiah). Atau sebesar risiko yang diperkirakan, misalnya untuk utang Rp 100 juta, maka UP Rp 100 juta. Kemudian jika berhubungan dengan kondisi sakit, UP yang dicadangkan sebesar biaya pengobatan tertinggi.
UP selalu diidentikkan dengan pertanggungan meninggal dunia, padahal UP sendiri berlaku jika cacat, sakit kritis, atau rawat inap harian. UP bergantung pertanggungan asuransi apa yang diambil.
Asuransi bisa diselenggarakan dengan 2 cara:
1. Mandiri (menyiapkan uang tunai untuk digunakan ketika risiko muncul), sama halnya dengan mengelola dana darurat.
2. Gotong royong (bekerja sama mengumpulkan uang tunai/sejumlah uang pertanggungan untuk digunakan ketika risiko muncul).
Membayar biaya akibat risiko bisa dilakukan dengan dua cara:
1. Dicicil dari sekarang dengan ikut serta dalam sistem asuransi.
2. Dibayar sendiri secara sekaligus saat risiko terjadi tanpa ikut sistem asuransi bisa dengan menjual aset atau bayar tunai. (Agus Rijal, S.E., konsultan marketing & keuangan syariah, perencana keuangan islami)***
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=143122

Memilih Produk Asuransi (Habis)
Perencanaan keuangan, selain berfungsi menetapkan/menyusun rencana, juga berfungsi mengatur/mengelola (evaluasi). Namun, lebih dari itu harus dipahami bahwa tujuan akhirnya adalah menentukan produk atau instrumen keuangan apa yang sebaiknya dipilih.
Memilih asuransi harus dikenali dulu jenis apa yang dibutuhkan. Secara umum, perusahaan asuransi terdiri atas dua kelompok, yaitu jiwa dan umum. Keduanya meng-cover objek yang berbeda, walaupun di asuransi umum akan memasukkan pertanggungan meninggal khusus untuk kecelakaan.
Sesuai dengan istilahnya, asuransi jiwa menanggung objek pertanggungan sehubungan dengan risiko jiwa, yaitu kematian, sakit, kecelakaan, dan ekonomi/ keuangan (investasi). Sementara asuransi umum memfokuskan pada objek pertanggungan fisik nonjiwa, seperti kecelakaan yang berakibat kebakaran, kerusakan objek fisik lainnya yang berdampak secara keuangan, atau kerugian akibat tindakan manusia lainnya (pencurian, perampokan, dll.).
Asuransi yang pertama kali ada sering disebut asuransi murni atau term life insurance (asuransi jiwa berjangka). Produk ini memberikan pertanggungan jiwa selama suatu jangka waktu tertentu sesuai dengan yang diinginkan nasabah, baik risiko meninggal, sakit, kecelakaan, dll.
Pada awalnya, asuransi jiwa dikembangkan untuk kepentingan sosial, tolong- menolong (tabarru/ kebajikan) dengan memberikan suatu nilai santunan. Namun saat ini, secara finansial, selain produk asuransi term (murni), asuransi dapat juga dikategorikan investasi. Hal ini arena di dalamnya ditawarkan pilihan investasi saham, obligasi, dan instrumen investasi lainnya. Ada tiga produk investasi di perusahaan asuransi:
1. Whole life insurance (asuransi jiwa seumur hidup). Asuransi ini memberikan pertanggungan seumur hidup, umumnya untuk manfaat meninggal saja. Hal lain yang membedakan dari term, asuransi whole life memberikan manfaat nilai tunai (tabungan investasi atau cash value, baik di masa pembayaran maupun di akhir perjanjian). Nilai tunai ini yang biasa disebut sebagai nilai tunai yang “dijamin” perusahaan. Premi asuransi jenis term life menawarkan premi yang lebih murah dibandingkan dengan asuransi jenis whole life. Wajar saja, karena sebagian premi diinvestasikan. Produk ini banyak ditawarkan untuk asuransi pensiun.
2. Endowment life insurance [asuransi jiwa dwiguna]. Produk ini dikembangkan setelah whole life, hanya fokus perhatiannya diperbesar pada manfaat investasi yang diatur secara berjangka. Produk ini banyak ditawarkan untuk asuransi pendidikan karena memiliki maturity date [tanggal jatuh tempo] di mana nasabah mendapat pembayaran nilai tunai di luar pertanggungan asuransi jiwanya. Nilai tunai ini yang biasa disebut sebagai nilai tunai yang “dijamin” perusahaan.
3. Asuransi unitlinked. Produk ini awalnya investasi (unit trust seperti produk reksadana). Namun karena dipasarkan oleh perusahaan asuransi, maka menjadi asuransi investasi (unitlinked). Produk ini menjawab keinginan masyarakat seiring dengan perkembangan zaman dan pemahaman masyarakat tentang investasi. Bedanya dengan produk asuransi bernilai tunai lainnya, nilai tunai unitlinked tidak lagi dijamin oleh perusahaan, tetapi menjadi tanggungan bersama nasabah dan perusahaan hanya bertindak sebagai manajer investasi (wakil investor untuk berinvestasi, umumnya di pasar modal dan produk perbankan). (Agus Rijal, S.E., konsultan marketing dan finansial syariah, perencana keuangan Islami independen) ***
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=144128

Investasi Saham? Siapa Takut! (Bagian pertama dari dua tulisan)
Kapan saat yang tepat untuk berinvestasi? Instrumen investasi apa yang baik? Jangan sampai jawaban Anda hanya berdasarkan perkiraan. Jika demikian, maka investasi yang Anda lakukan hanya bersifat spekulasi. Sebelum berinvestasi, pastikan dulu Anda memahami tahapan produk investasi yang harus dikenal. Berikut tahapan investasi:
Tidak sedikit masyarakat yang awam investasi terjun bebas, loncat dari tahapan investasi yang ada. Misalnya investor deposan langsung investasi saham tanpa mengenal instrumen investasi sebelumnya yang lebih rendah, baik risiko maupun keuntungan, sebut saja reksadana. Tak heran bila kemudian pengalaman pahit investasi ini menurunkan minat berinvestasi, selain tabungan dan deposito yang sudah lama dikenal. Padahal, untuk mengoptimalkan investasi yang dimiliki, masih banyak produk investasi yang aman untuk diikuti.
Jika selama ini sudah mengenal investasi tabungan dan deposito sebagai produk perbankan, juga emas, tahapan berikutnya dalam investasi adalah reksadana dan unitlinked (investasi + asuransi). Reksadana/unitlinked merupakan jembatan menuju investasi pasar modal.
Investasi langsung di pasar modal : Investor – pialang – Bursa (produk SBI, obligasi, saham, dll.)
Investasi melalui reksadana/ unitlinked: Investor – manajer investasi – Pialang – Bursa (produk SBI, obligasi, saham, dll.)
Manajer investasi merupakan perusahaan profesional yang diizinkan oleh Bapepam untuk mengolektifkan dana sebagai modal untuk berinvestasi di bursa (pasar modal). Berbeda dengan investasi langsung di bursa, investor tidak perlu memiliki pengalaman khusus. Keahlian membeli dan menjual diwakilkan pada manajer investasi yang sudah berpengalaman. Namun, hasil yang didapat tidak optimal dibandingkan dengan investasi sendiri langsung ke pasar modal. Mengapa memilih reksadana saham? Berdasarkan karakteristik dan range keuntungan yang diperoleh termasuk yang paling tinggi.
1. Reksadana pasar uang (deposito, SBI, dll.) 6-10 persen.
2. Reksadana pendapatan tetap (obligasi) 9-13 persen.
3. Reksadana saham (min. 80 persen saham) 20-48 persen.
4. Reksadana campuran 12-25 persen.
Jika Anda memutuskan investasi reksadana saham, apa yang baik dilakukan? Berinvestasi dengan metode dollar cost averaging (DCA), seperti yang ditulis Pat Dorsey dalam ”5 Rules for Successful Stock Investing”, (Morningstar). metode investasi ini bisa menjadi sebuah strategi bagi para pemodal yang tidak ingin menginvestasikan uangnya pada suatu produk investasi yang tidak dipahaminya dan volatilitasnya tinggi (fluktuatif). Strategi ini juga bisa dipergunakan oleh pemodal yang memiliki jumlah modal terbatas, tetapi mengharapkan keuntungan investasi yang optimal. Juga bagi pemula yang ingin berinvestasi saham melalui reksadana.
Jika pencairan dana ditunda lebih lama lagi, menunggu harga unit lebih tinggi lagi, tentu saja keuntungan yang akan dicapai lebih besar lagi. (Agus Rijal, S.E., Marketing & Financial Consultant Syariah –Islamic Financial Planner Independen, ArRIJAL & Partner`S)***
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=137069

Investasi Saham ( Habis)
Masih ingat data DCA sebelumnya? Data tersebut sama dengan grafik berikut ini:
DCA digunakan untuk setoran berulang-ulang, bagaimana bila hanya sekali saja dalam jumlah yang besar (lump sum). Apa risikonya? Pada investasi dengan fluktuasi harga tinggi (saham), boleh jadi tidak terdapat keuntungan apa pun atau bahkan merugi. Misalnya saat berinvestasi 2005, harga unit investasi Rp 3.000-an (per lembar saham/ unit), kemudian 2008 bergerak naik Rp 8.000-an, dan kembali ke posisi semula November 2008. Dengan demikian, pada kurun empat tahun keuntungan 0 persen. Atau sebaliknya, salah ambil posisi, ketika (Maret 2008) harga harga Rp 7.000-an dianggap murah dan entry point, karena terbuai keuntungan sebelumnya (kenaikan dari Rp 3.000 ke Rp 8.000 = 167 persen). Akan tetapi, apa yang terjadi? Setelah itu harga malah turun terus hingga Rp 3.000-an. Investor pemula umumnya kaget, tidak sedikit yang melikuidasikan dan lebih memilih kerugian, padahal setahun kemudian harga kembali naik menjadi Rp 8.000.
Kasus ini terjadi pada 2008 saat krisis global. Bagaimana jika terjadi hal demikian? Bagaimana juga menyelamatkan nilai investasi, ketika harga investasi turun drastis? Setelah mengenal metode Dollar Sost Averaging (DCA) pada tulisan pertama, kini ada teknik lain untuk investasi berkait saham, yaitu inject hedging, menyelamatkan investasi ketika harga berfluktuasi (volatilitas tinggi), dengan cara memasukkan sejumlah tambahan dana (inject) untuk menyelamatkan/ melindungi (hedging) dana yang sudah diinvestasikan sebelumnya, baik ditarik kembali atau tidak dana tambahan tersebut. Berikut metoda inject hedging dikutip dari buku Siap Kaya ala investasi Syariah (SKS) dan Kiat Merencanakan Keuangan Haji-Umrah (KMKH); Trilogi Islamic Financial Planning.
Apalagi bila suntikan dana kedua tidak diambil kembali, maka keuntungan akan diraih dua kali. Pertama melindungi modal yang awal, kedua mendapat keuntungan dari dua kali modal disetor. (Agus Rijal, S.E., Marketing & Financial Consultant Syariah –Islamic Financial Planner Independen, ArRIJAL & Partner`S)
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=137976

Tren Investasi Syariah 2011

Tahun 2009-2010 menjadi masa pemulihan bagi pemodal investasi di tanah air (investor), setelah menjelang penghujung tahun 2008 lalu badai krisis yang dihembuskan Amerika sedikitnya berdampak pada investasi di Indonesia. Tahun 2009 pasar investasi Indonesia membuktikan pada dunia lebih tahan terhadap krisis, hal itu terbukti dengan berhasilnya berbagai sektor bangkit mengembalikan keterpurukan dengan rata-rata hampir 100%, bahkan lebih jika diakumulasikan hingga akhir tahun 2010. Kepercayaan investor pun mulai pulih.

Keberhasilan menghadapi badai krisis kali ini (siklus 10 tahunan), tak lepas dari peran serta tren investasi syariah yang mulai banyak ditawarkan berbagai lembaga keuangan.

Ada 2 bentuk investasi syariah yang menjadi tren saat ini:

– Investasi pada aktiva riil (non finansial), yaitu investasi dalam bentuk yang dapat dilihat secara fisik, seperti emas, intan, rumah, perdagangan/ wirausaha, dll.

– Investasi pada aktiva finansial, yaitu investasi dalam bentuk yang biasanya diwakilkan dalam surat-surat berharga, seperti deposito wadiah, obligasi (sukuk), saham, dll.

Sementara menurut caranya dalam berinvestasi pada aktiva finansial juga terbagi dua:

– Langsung, artinya: dengan memiliki surat berharga tersebut pemilik dapat menentukan jalannya kebijaksanaan yang juga berpengaruh pada investasi surat berharga yang dimilikinya. Contoh: Saham, obligasi/ sukuk, sertifikat deposito.

– Tidak langsung, artinya: pengelolaan surat berharga diwakilkan oleh suatu badan atau lembaga yang mengolah investasi para pemegang surat berharganya untuk sedapat mungkin menghasilkan keuntungan yang memuaskan para pemegang surat berharganya. Contoh: Reksadana, asuransi (terkait investasi), dll.

Secara umum, bentuk-bentuk investasi syariah (instrumen) yang tetap akan menjadi trend 2011; 1. Perbankan, berupa tabungan dan deposito, 2. Membuka usaha sendiri/ investasi disektor riil (termasuk franchise/ waralaba), 3. Emas, 4. Asuransi (Unitlink), 5. Reksadana, 6. Properti (tanah, jual beli rumah dan sewa, ruko), 7. ORI (obligasi/ sukuk), 8. Saham, 9. Barang koleksi

***

Secara umum produk perbankan syariah masih akan mendominasi dan menempati urutan utama investor rumah tangga dalam menyimpan dananya sepanjang tahun 2011, karena selain didukung infrastuktur yang lebih luas diseluruh pelosok tanah air, juga terjangkau dan mudah. Selain itu, sektor riil (perdagangan) juga tumbuh, mereka menginvestasikan dananya dikelola sendiri (wirausaha/ bussiness owner). Sementara bagi beberapa investor yang mulai memahami cara berinvestasi dan memiliki modal yang cukup, dana yang diakumulasikan sebagai kekayaan mulai diinvestasikan.

Sektor non finansial;

1. Properti (dalam bentuk tanah, jual beli rumah dan sewa, ruko); Dilaporkan Credit Suisse dalam sebuah surveynya 2010 lalu, kekayaan rata-rata orang dewasa di Indonesia melesat 384 persen sejak tahun 2000 menjadi US$12.112. Angka pertumbuhan ini merupakan yang tercepat di Asia Pacific dan tertinggi keempat di dunia. Dan survey tersebut menemukan fakta bahwa lebih dari 90 persen kekayaan rumah tangga di Indonesia adalah aset non finansial, terutama properti. Aset finansial hanya menyumbang kurang dari 10 persen selama satu dekade terakhir.

2. Emas; Ditengah kondisi perekonomian dunia yang labil, orang-orang super kaya di dunia pun meresponsnya dengan mengalihkan portofolio investasinya ke emas. Mereka menarik aset-asetnya dari sistem finansial dan memborong emas. Kekhawatiran akan terjadinya pelemahan ekonomi yang berlarut-larut telah meningkatkan minat terhadap emas. Bedanya adalah kalau emas naik turunnya bersifat responsive bergerak setiap detik mengikuti pergerakan harga emas dunia yang dipengaruhi oleh sekian banyak isu-isu ekonomi. Kenaikan harga tanah secara umum  bersifat gradual – tidak fluktuatif, tidak dipengaruhi secara langsung oleh isu-isu ekonomi sesaat. Menurut Alf Field (tekenal di dunia sebagai World’s Best Gold Analyst), tren emas kali ini (sejak tahun 2000) mengikuti trend tahun 70-an ke 80-an dimana harga emas melonjak 24.3 x dalam 1 dekade (10 tahun).

Berdasarkan data dari World Gold Council (WGC),  sampai akhir tahun lalu tersedia sekitar 170,000 ton emas di seluruh permukaan bumi (cadangan di dalam bumi belum dihitung). 51% untuk perhiasan (juga investasi), 18 % jadi cadangan di bank-bank sentral seluruh dunia, 17% sebagai investasi murni, dan 12% lainnya untuk industri serta 2 % lain-lain.

Sektor finansial;

1. Saham (juga dalam bentuk reksadana & unitlink); Efek atau saham yang sesuai dengan prinsip syariah ternyata belum banyak dikenal di Indonesia. Nilai kapitalisasi pasar saham akhir Desember 2010 sebesar Rp 3.243 triliun atau naik 60,63% dari akhir periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp 2.019 triliun. Dan 45%nya disumbangkan dari saham-saham yang dinilai memenuhi standar syariah.

2. Obligasi & Sukuk (juga dalam bentuk reksadana & unitlink); Investasi syariah tidak mengenal utang piutang untuk penyertaan modal yang nantinya akan jatuh pada bunga saat pembagian keuntungan. Maka untuk membedakan, penyertaan dalam investasi obligasi dikenal istilah sukuk. Dimana investor tetap akan mendapatkan bagi hasil berdasarkan prinsip syariah. (Agus Rijal, S.E., Perencana Keuangan Syariah Independen)***

Emas Primadona Investasi Syariah

Properti masih menduduki peringkat teratas sebagai favorit investasi hingga penghujung tahun 2010, bahkan masih akan menjadi tren ditahun 2011. Hanya untuk investasi di instrumen ini memerlukan biaya (modal) yang cukup besar dibandingkan dengan emas. Untuk itulah emas lebih diminati sebagai investasi syariah dan menjadi primadona masyarakat luas dalam dekade kali ini (2000-2010). Selain modal yang diperlukan relatif lebih kecil dibandingkan properti, tren kenaikan harga emas dalam 10 tahun terakhir ini membantu promosi penggiat investasi emas. Ada 3 bentuk fisik investasi emas;

1. Perhiasan; Kadar emas dalam bentuk ini biasanya kurang dari 24 karat dan kebanyakan harganya lebih ditentukan oleh nilai seni dari perhiasan itu. Bila Anda ber-investasi emas untuk jangka pendek, biasanya akan sulit mendapatkan keuntungan kalau bentuknya emas perhiasan. Ini karena kalau datang ke toko dan membeli emas perhiasan, Anda harus membayar harga emas plus ongkos pembuatannya. Nah, ketika suatu saat Anda menjualnya kembali, maka toko tidak akan mau membayar ongkos pembuatan dari perhiasan emas tersebut. Ia hanya akan membayar harga emasnya saja.

2. Koin Emas (Dinar); Diciptakannya emas dan perak oleh Allah menurut Imam Ghazali adalah agar emas dan perak ini digunakan sebagai hakim atau timbangan yang adil untuk menilai barang-barang dalam bermuamalah (perdagangan/ perekonomian). Kalau kita diperintahkan untuk menegakkan timbangan atau bermuamalah secara adil, dan untuk ini dibutuhkan emas atau perak – maka pastilah Allah menyediakannya secara cukup di muka bumi. Hal ini dibuktikan data Gold Sheet Link, selama 170 tahun terakhir trend ketersediaan emas di permukaan bumi meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk bumi. Bahkan ketersediaan emas per kapita dunia cenderung naik dari 0.50 ounces/ kapita pertengahan abad 19 ; menjadi sekitar 0.75 ounces/kapita dasawarsa ini.

Awalnya koin emas dikenal sebagai dinar (saat ini nama dinar dijadikan mata uang kertas Iraq) dan digunakan sebagai mata uang. Pada masa Rasulullah SAW (14 abad yang lalu), ditetapkan berat standar dinar diukur dengan 22 karat emas, atau setara dengan 4,25 gram (diameter 23 milimeter). Standar ini kemudian dibakukan oleh World Islamic Trading Organization (WITO), dan berlaku hingga sekarang. 1 Koin Dinar Emas = 4,25 gram Emas 22 Karat. Di jaman permulaan Islam, harga seekor kambing gemuk 1 koin dinar emas. Nah saat ini, kambing yang bagus dan gemuk juga harnya 1,5 – 1,7 juta (4,25 gram emas x harga emas). Hal ini membuktikan bahwa emas dapat dijadikan sebagai mata uang dan juga investasi.

Namun, perkembangan perdagangan yang makin pesat menuntut penggunaan alat tukar yang lebih fleksibel, ringan dan mudah dibawa tanpa mengurangi nilai; mendorong diciptakannya uang kertas atau uang fiat. Pada mulanya uang kertas yang dicetak harus disertai dengan penjaminan, jaminan atas uang kertas yang dicetak ini berupa Emas (cadangan Devisa Emas). Sebuah negara tidak bisa sembarangan mencetak uang kertas tanpa jaminan stok Emas yang memadai. Inilah yang kemudian dikenal dengan Standar Emas dan momentum ini ditandai dengan ditanda-tanganinya perjanjian Bretton Woods tahun 1944 yang didukung oleh tidak kurang dari 44 negara.

Menurut perjanjian Bretton Wood, masing-masing negara mematok mata uang kertasnya terhadap USD Dolllar dengan jaminan Emas, yaitu, USD 35 dijamin dengan satu ounce Emas. Perjanjian atau standar Emas ini berlangsung 27 tahun, hingga pada akhirnya pemerintah Amerika Serikat (1971), mengalami kesulitan ekonomi akibat perang Vietnam tidak mampu lagi mempertahankan cadangan emasnya, akibat besarnya aliran penukaran US Dollar dengan Emas. Sejak itu mata uang kertas tidak lagi memenuhi ketentuan syariat, dijamin dengan Emas tetapi ditentukan oleh kepercayaan yang didukung oleh ketersediaan cadangan devisa (Emas dan valuta asing) yang dimiliki bank sentral masing-masing negara dan supply-demand yang ditentukan kondisi fundamental ekonomi masing-masing negara. Uang kertaspun tidak bisa dijadikan alat investasi, namun hanya sekedar currency (alat ukur atau patokan nilan tukar.

3. Emas Batangan; Investasi emas yang baik dalam bentuk batangan atau dikenal logam mulia (LM). Mengapa? Karen emas batangan tidak ada ongkos pembuatan seperti perhiasan/ koin emas. Seperti apa LM? Janganlah membayangkan emas batangan seperti yang ada di film-film, bentuknya besar-besar, pada kenyataannya bentuknya kecil-kecil mulai dari pecahan 1 gr, 2 gr, 5 gr hingga terberat 1 kg. Mungkin Anda mengira emas batangan berat dan besar, kenyataanya di Indonesia, emas ini dicetak maksimum 1 kg (sekira sebesar kotak korek api) dengan kadar murni 24 karat.

Untuk menjamin kemurnian LM ini, pemerintah menunjuk PT Aneka Tambang (Antam) sebagai perusahaan pengolah/ pencetak LM.  Antam mengeluarkan sertifikat berupa kertas kecil berhologram dan kuitansinya sebagai jaminan keaslian di setaip LM yang diolahnya.  Selain itu pada fisik emas mumnya tercantum kode 9999 atau 24 karat, nomor seri, dan berat logam dengan cetakan tenggelam dan logo pembuatnya. (Agus Rijal, S.E., Perencana Keuangan Syariah)***

Mengoptimalkan Keuntungan Investasi Emas

Mohon info lebih lanjut perihal investasi emas, harga minimum, apakah bentuknya, kalau di Bandung bagaimana? Sukron (gehenk_miftahfauzi@yahoo.com)

Emas kini menjadi primadona investasi syariah. Instrumen ini lebih mudah dan murah didapat. Berdasarkan bentuk batangannya, LM (Logam Mulia) dicetak mulai 1 gram, dengan demikian investasi dapat dilakukan seharga emas dengan berat 1 gram. Jika saat ini 1 gram sekira Rp 400 ribuan, investasi minimum LM pun seharga emas dipasaran. Bentuk LM dipilih, selain tidak dikenakan pajak, juga biaya pembuatan yang relatif lebih murah dibandingkan bentuk lain (koin emas dan perhiasan). Nah, jika Anda benar-benar berminat investasi emas, ada 3 cara yang dapat dilakukan, yaitu;

1. Menyicil secara rutin seperti metode DCA (Dollar Cost Averaging)

2. Gadai melalui lembaga keuangan perbankan

3. Lump Sum (sekaligus)

Menyicil

Cicil emas sangat memungkinkan bagi Anda yang memiliki dana terbatas. Tak perlu khawatir dengan naik atau turunnya harga. Cara ini bukan kredit emas, dengan membeli jumlah tertetu (jumlah besar) kemudian pembayaran diangsur, namun berinvestasi secara konsisten misalnya setiap bulan membeli 1 gram emas selama 5 tahun (60 gram). Cara ini mengurangi resiko kerugian saat terjadi naik turun harga sepanjang 5 tahun masa pembelian.

Gadai Emas

Cara ini sebenarnya mirip dengan menyicil dengan metode Dollar Cost Averaging atau mencicil, hanya bedanya gadai emas melibatkan pihak ketiga sebagai pemodal. Sistem gadai yang sekarang banyak dipraktekan dalam emas adalah seperti ini;

Contoh asumsinya sebagai berikut: Melakukan investasi emas secara rutin sebesar 5 gram

– Asumsi emas 5 gram = Rp.2.000.000,- (Rp.400.000,- per gram)

– Pada saat ini punya tambahan uang Rp.850.000,-

– Harga Taksir Bank Rp.325.000,- per gram

– Nilai gadai sebesar 80% dari harga taksir emas (Rp.260.000,- per gram)

– Biaya penitipan emas Rp. 2.500/ gram/ bulan

Catatan; taksiran nilai taksir dan kondisi sebenarnya di bank mungkin berbeda-beda, tapi yang terbaik memilih bank yang memberikan nilai gadai tinggi dan biaya rendah

Nah, jika sudah mendapatkan fisiknya emas kemudian digadaikan dengan perhitungan sebagai berikut:

Anda mendapat pinjaman sebesar Rp.325.000 x 80% = Rp.260.000 x 5 gram = Rp.1.300.000, dipotong biaya penitipan (atau dibayar tersendiri) sekira Rp.2.500 × 5 × 12 bulan = Rp.150.000,- (asumsi disimpan 1 tahun). Jadi pinjaman diterima Rp 1.150.000,-, maka untuk mendapatkan emas seberat 5 gram dengan harga yang sama (Rp 400 Ribu) diperlukan tambahan modal Rp 850.000,-

Setelah modal terkumpul senilai 5 gram emas, langkah berikutnya digadaikan kembali untuk mendapat dana tambah agar bisa memiliki emas berikutnya. Lakukan langkah tersebut sepanjang memiliki dana tambahan dan emas terakhir disimpan. Jika 3 (tiga) kali gadai (dapat lebih dari 3 kali), setiap mengadai emas 5 gram mendapat pinjaman Rp. 1.15 jt, kemudian tambah Rp.850 Ribu agar menjadi Rp 2 Juta untuk membeli 5 gram emas ke-2 hingga ke 4. Maka total modal yang dikeluarkan untuk 4 kali pembelian menjadi Rp 4,55 juta, tidak Rp 8 juta untuk 20 gram.

Jika harga emas setahun naik 20 % (menjadi Rp 480.000,- per gram), 20 gram emas yang dimiliki (15 gram digadaikan dan 5 gram dipegang sendiri), nilainya menjadi Rp 9,6 juta. Bagaimana mencairkannya? Langkahnya cukup dibalik saja dengan menjual emas yang disimpan (5 gram x 480 ribu = Rp 2,4 juta), lalu dana penjualan tersebut digunakan untuk menebus emas yang tergadai. Maka kita akan mendapat sisa keuntungan masing-masing Rp 1,1 Juta (Rp 2,4 Juta – Rp 1,3 Juta). Jadi keuntungan Anda Rp 1,1 juta x 3 + Rp 2,4 Juta (emas terakhir yang dijual) – Rp 4,55 Juta (modal) = Rp 1,15 Juta setara 25% setahun. Dalam kasus ini, nilai investasi 5% lebih tinggi dibandingkan dengan investasi lump sum (sekaligus) atau dari kenaikan harga emas itu sendiri.

Lump Sum

Misalnya Anda memiliki dana Rp 4,55 Juta, jika harga emas saat pembelian Rp 400 Ribu per gram, maka akan mendapat emas 11,375 gram sekaligus. Nah, saat harganya naik 20% menjadi Rp 480 Ribu per gram, nilai investasi Anda Rp 5,46 Juta atau keuntungan Rp 910 Ribu.

Untuk mendapatkan keuntungan yang maskimal dan mengatasi kerugian ketika harga turun, cara ini biasanya diikuti dengan penambahan dana (inject hedging). Pembelian sebaiknya dilakukan ketika harga cenderung turun dalam waktu yang lebih lama (lebih dari 2-3 bulan) atau menjual ketika harga naik tajam dan diperkirakan turun dalam beberapa waktu kedepan jika penambahan dana tidak mungkin dilakukan. Model investasi ini juga disarankan memantau naik turunnya harga emas lokal maupun internasional yang dapat di http://www.logammulia.com atau http://www.kitco.com. (Agus Rijal, S.E., Perencana Keuangan Syariah)***

Advertisements

2 thoughts on “Artikel Perencanaan Keuangan & Konsultasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s